Paramadina Graduate Schools

Home News Palestina, Timur Tengah, dan Tanggung Jawab Indonesia: Menyongsong Kemerdekaan Palestina

Palestina, Timur Tengah, dan Tanggung Jawab Indonesia: Menyongsong Kemerdekaan Palestina

E-mail Print PDF
There are no translations available.

Oleh: Muhammad Najib


Sejak runtuhnya Kesultanan Turki Usmani 1923 yang mengontrol seluruh Timur Tengah,  pengendalian Palestina beralih sepenuhnya ke tangan Inggris. Gerakan Zionis yang lama berjuang menemukan pintu masuk sejalan dengan desain Barat pasca Perang Dunia Pertama yang ingin memecah-belah Timur Tengah dan menancapkan duri di dalamnya secara permanen.
Atas restu Inggris ditandai dengan Deklarasi Balfour tahun 1917 dan Bantuan Barat,  orang-orang Yahudi dari seluruh penjuru dunia terutama yang merasa tidak aman dan tidak nyaman hidup di negaranya kemudian berduyun-duyun pindah ke wilayah yang dikenal selama berabad-abad dengan nama Palestina. Saat dideklarasikannya Negara Israel di atas Tanah Palestina  tahun 1948, jumlah penduduk Yahudi sudah mencapai 30%  di antara 1,37  Juta penduduk yang bermukim di wilyah Palestina, padahal semula hanya 10  % dari total penduduk yang berjumlah 752.048 saat Inggris pertama kali menginjakkan kakinya.
Perang Arab-Israel tahun 1967 bukan hanya memperluas wilyah Israel di Palestina, bahkan sampai mengambil Sinai dari Mesir, Golan dari Suriah dan Shebaa dari Lebanon. Hanya Mesir yang berhasil mengambil kembali wilayahnya melalui usahanya lewat Perang Arab-Israel tahun 1973 kemudian dilanjutkan dengan Perjanjian Camp David, sementara Wilayah Suriah dan Lebanon masih diduduki Israel sampai kini meskipun mereka juga ikut terlibat dalam perang bersama Mesir dan tidak pernah berhenti melakukan upaya politik atau diplomasi.
Kegagalan gabungan negara-negara Arab terutama Mesir, Suriah, Jordania dan Lebanon yang menjadi front terdepan mengambil kembali Palestina dari Israel melalui perang, kemudian mendorong bangsa Palestina  sendiri untuk membebaskan tanah airnya  dari penjajah Israel, sementara negara-negara Arab lain yang semula berada di depan kemudian hanya memberikan dukungan dari belakang.
Semula bangsa Palestina berjuang dengan senjata dengan tokoh utamanya Yaser Arafat, setelah berkali-kali terjadi pertempuran sporadis dan berkali-kali pula terusir sehingga harus memindahkan markasnya dari satu negara Arab ke negara Arab lain. Mereka kemudian membentuk pemerintahan di pengasingan dengan bendera PLO lengkap dengan anggota Parlemennya, sampai ditandatanganinya  Perjanjian Oslo pada tahun   1993    yang memberikan jalan bagi Yaser Arafat dan kawan-kawan  kembali ke tanah kelahirannya dan membentuk pemerintahan dengan kekuasaan sangat terbatas meliputi wilayah Tepi Barat dan Gaza yang dikenal dengan Otoritas Palestina dengan Ibukota sementara di Ramalah.
Kemerdekaan penuh sesuai  Perjanjian Oslo tidak kunjung terwujud disebabkan Israel terus menunda-nunda realisasi kesepakatan final, sementara dalam waktu yang bersamaan terus-menerus menggerus wilayah Palestina dengan cara membangun permukiman bagi orang-orang Yahudi lengkap dengan fasilitas umum dan infrastrukturnya. Kekecewaan, frustasi bahkan perasaan dikhianati mengakibatkan meredupnya Fatah sebagai organisasi atau partai politik utama dalam PLO, kemudian memunculkan gerakan-gerakan baru garis keras terutama HAMMAS yang kembali memilih menggunakan senjata untuk membebaskan tanah airnya.
Isu negara Yahudi yang kini didengungkan Perdana Mentri Benyamin Netanyahu menjadi semacam deklarasi praktek apartheid Pemerintah Israel yang  sudah lama dilakukan, sehingga menempatkan penduduk non Yahudi seperti Muslim dan Nasrani sebagai warga kelas dua.  Pembangunan dinding yang menjepit dan mengisolasi pemukiman-pemukiman Palestina di Tepi Barat dan blokade Gaza, semakin meningkatkan simpati warga Palestina kepada HAMMAS. Sementara dunia Arab sejak Arab Spring semakin terpecah belah dalam pergolakan perebutan kekuasaan baik secara terbuka bahkan dengan menggunakan senjata, atau secara halus dan tertutup menghabiskan perhatian dan energi mereka untuk urusan internal masing-masing. Kombinasi antara situasi dalam negri dan regional ini mendorong kompromi antarfaksi Palestina, terutama antara Fatah dan HAMMAS untuk bersatu hingga terbentuknya Pemerintahan Persatuan yang selama puluhan tahun tidak pernah terjadi.
Bagi Israel Persatuan ini menjadi mimpi buruk yang sangat merisaukannya, karena Israel secara konsisten dan menguras seluruh energinya untuk memecah belah faksi-faksi Palestina sebagai bagian dari strategi untuk melemahkan perjuangan mereka, sebagaimana Israel memecah-belah negara-negara Arab secara konsisten.  Bagi kelompok garis keras Israel yang kini sedang berkuasa, wilayah Israel yang diinginkannya melingkupi seluruh tanah Kanaan termasuk Tepi Barat dan Gaza. Kini Israel sudah menguasai 85 persen wilayah Palestina.
Walaupun tidak pernah dikatakan, tampaknya Israel telah mengubur  Perjanjian Damai yang pernah ditandatanganinya di Oslo. Kelompok ini menggunakan teror fisik maupun non fisik secara maksimal yang konsekwensinya terabaikannya apa yang disebut Hak Asasi Manusia. Dengan alasan menjaga keamanannya, Israel merasa boleh melakukan apa saja terhadap orang Palestina. Akibatnya kebrutalan terjadi secara terus-menerus, penyiksaan dan pembunuhan tak peduli apakah mereka anak-anak, perempuan ataupun orang tua. Begitu juga penghancuran rumah, masjid, rumah sakit atau sekolah dapat terjadi setiap saat tanpa alasan yang jelas atau alasan yang diacritics-cari.
Munculnya Aljazeera sebagai media berita dunia mengimbangi bahkan mengalahkan CNN dan BBC yang selama ini membentuk opini masyarakat dunia, memberikan keuntungan tersendiri bagi perjuangan Kemerdekaan Bangsa Palestina. Bahkan menjadi senjata paling ampuh melampaui senjata militer, politik maupun ekonomi. Penderitaan mereka kini tidak mampu lagi disembunyikan, pelanggaran HAM yang dilakukan secara terus-menerus oleh warga Yahudi dan para penguasa Israel selama puluhan tahun kini dipertontonkan ke rumah-rumah setiap warga dunia melalui TV selama dua puluh empat jam. Kemanusiaan yang terusik, kemudian dikomunikasikan melalui social media yang semuanya secara bertahap menambah simpati  pada Palestina, sebaliknya menggerus dukungan terhadap Israel yang selama ini dinikmatinya. Kini semakin brutal Israel semakin keras kecaman yang diterimanya, walau dengan alasan tertentu sejumlah penguasa tetap saja membela Israel secara membabi-buta. Penguasa-penguasa seperti ini lambat-laun berhadapan dengan rakyatnya sendiri. Inilah alasan Kemerdekaan Palestina sudah semakin dekat dan tidak bisa dibendung lagi.
Mendukung Palestina berarti merebut simpati bangsa Arab secara keseluruhan, walaupun mungkin sejumlah penguasa di Timur Tengah dengan alasan tertentu terkadang tidak membela Palestina, tetapi seluruh Rakyat Arab dan mayoritas warga dunia membela Palestina. Konsistensi Pemerintah dan Rakyat Indonesia mendukung perjuangan Bangsa Palestina dalam meraih kemerdekaannya dapat dilihat sebagai sebuah investiasi politik dan penegakkan HAM di pentas global. 
Dinamika Politik Timur Tengah Keberhasilan koalisi Inggris dan Perancis  meruntuhkan Kesultanan  Turki Usmani Pasca Perang Dunia Pertama tidak bisa dilepaskan dari dukungan Bangsa Arab. Kesediaan Bangsa Arab mendukung ini tidak bisa dilepaskan dari janji bahwa mereka akan dibebaskan atau dimerdekakan. Kenyataannya kemudian wilayah mereka dikapling-kapling dan dibagi dengan penguasa baru antara Inggris dan Perancis.  Hanya beberapa wilayah Arab miskin dan tidak menarik pada waktu itu yang dilepas kemudian memproklamasikan kemerdekaannya, sementara sisanya harus berjuang kembali.
Perang Dunia Kedua melahirkan dua super power baru, yakni Amerika dengan kapitalismenya dan Rusia dengan komunismenya yang kemudian berebut pengaruh di tingkat global termasuk di kawasan Timur Tengah. Negara-negara Arab terpecah, sebagian berafiliasi ke Barat pimpinan Amerika, sementara sebagian berkiblat ke Timur pimpinan Rusia. Organisasi-organisasi perjuangan Palestina lebih memilih Rusia disebabkan Israel didukung tanpa batas baik secara ekonomi, politik maupun militer oleh Amerika dan sekutunya. Keunggulan ekonomi, politik dan militer Amerika atas Rusia berimplikasi pada keunggulan Israel atas negara-negara Arab termasuk Palestina. Situasi ini memaksa para pejuang Palestina di bawah kepemimpinan Yaser Arafat menoleh ke Barat dan berusaha mengubah strategi perjuangannya yang kemudian bermuara pada Perjanjian Damai Oslo. Ada dua hal penting dalam Perjanjian Oslo; Pertama, Palestina mengakui eksistensi Negara Israel, dan Kedua, kesediaan Palestina untuk berbagi wilayah yang kemudian lebih dikenal dengan istilah Two State Solution.
Sejak ditandatanganinya Perjanjian Oslo 1993 sampai meninggalnya Arafat tahun 2004,  kemerdekaan penuh Palestina tidak kunjung menjadi kenyataan, bahkan semakin hari semakin banyak tanah Palestina yang diklaim dan dimasukkan ke dalam wilayah Israel.
Sementara negara-negara Arab terus-menerus bertikai satu sama lainnya dengan alasan yang berubah-ubah, aliansi antara negara Arab juga tergantung situasi dan kondisi.
Arab Spring sempat menerbitkan harapan munculnya era demokratisasi dan kebebasan menyatakan pendapat serta partisipasi dalam urusan pemerintah dan negara di dunia Arab. Banyak pengamat yang meyakini demokratisasi kawasan Timur Tengah akan menjadi awal kebangkitan kembali Bangsa Arab untuk meraih kembali masa kejayaannya yang lama hilang. Bangsa Arab pernah mencapai masa keemasannya dimulai dari era Khlifahurasyidin, lalu dilanjutkan dengan  pemerintahan di bawah Dinasti Umayyah kemudian Dinasti Abbasyiyah. Bahkan sebagian pengamat menggunakan istilah Super Power untuk mengambarkan kekuatan politik,, militer, dan ekonominya, serta kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, seni dan budayanya. Tapi kenyataannya kini bahkan membuat mereka semakin terbenam karena dominannya kebanggaan dan menonjolnya  kabilah-kabilah yang berebut kekuasaan bagai kembali ke masa jahiliah.
Tanggung Jawab dan Posisi Indonesia Sesuai Mukadimah UUD 1945 yang berbunyi: "Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan." Inilah yang menjadi landasan yuridis sekaligus spirit rakyat Indonesia membela Palestina secara konsisten serta enggan mengakui Israel sampai berdirinya Negara Palestina yang merdeka dan berdaulat secara penuh sebagaimana negara pada umumnya.
Ketegasan dan keteguhan sikap ini tidak bisa dilepaskan dengan peran Mesir dan sejumlah negara Arab termasuk Palestina yang memberikan dukungan perjuangan Bangsa Indonesia, kemudian pertamakali mengakui kemerdekaan Indonesia.
Bagi Indonesia, Zionisme dipandang sebagai sebuah gerakan politik murni yang bertujuan mendirikan sebuah negara baru di wilayah Palestina yang tidak ubahnya sebagai penjajahan. Kehadiran Israel kemudian mengganggu kedamaian dan keharmonisan antarkelompok penganut agama Islam, Nasrani dan Yahudi yang hidup berdampingan selama ratusan tahun di Tanah Palestina. Apalagi sejak berdirinya Pemerintahan Israel praktek aparthed di seluruh aspek kehidupan kemudian menempatkan penganut Islam dan Nasrani sebagai warga kelas dua.
Indonesia di bawah Presiden Soekarno selalu bersikap aktif dan sering mengambil inisiatif dalam membantu banyak negara terutama yang berada di kawasan Asia dan Afrika untuk memperoleh kemerdekaannya. Salah satu peristiwa yang dicatat sejarah  dan banyak dikenang oleh bangsa- bangsa lain adalah Konferensi Asia Afrika yang diadakan di Bandung. Dari delegasi yang hadir saat itu, kini semuanya sudah merdeka kecuali Palestina. Sikap politik Bung Karno kemudian diikuti oleh para presiden RI berikutnya, walau mungkin gaya diplomasi yang dipilihnya tidak seheroik Presiden RI Pertama.
Peristiwa September 11 yang meluluhlantakkan Gedung Kembar World Trade Center di New York, AS,  menandai pola baru hubungan negara-negara Arab dengan Barat terutama di bidang ekonomi. Negara-negara Arab kaya saat itu merasa tidak nyaman dan tidak aman lagi menyimpan properti mereka di Barat, sehingga mereka menarik uang mereka dari bank-bank di New York, London, Paris dan pusat-pusat keuangan lain untuk dipindah ke Dubai, Doha, dan Abu Dhabi. Kota-kota ini kemudian tumbuh secara mencengangkan dan menjadi pusat-pusat pertumbuhan baru.
Sayangnya potensi alamiahnya terbatas, sehingga walaupun menimbulkan geliat ekonomi yang luar biasa, tidak seluruh dana yang dimilikinya tumbuh secara optimal. Para emir kaya penguasa negara-negara Teluk ini kemudian melirik negara-negara Asia dan Afrika sebagai tujuan investasinya. China, Jepang, Korsel dan India kemudian menjadi tujuan utama. Di kawasan ASEAN  Singapura dan Malaysia yang paling pandai dan paling banyak memanfaatkan peluang ini, meskipun banyak indikasi uang itu kemudian diinvestasikan di Indonesia dalam berbagai bentuk. Ironisnya, bahkan Thailand yang lebih pro-Israel lebih banyak menikmati peluang ini dibanding Indonesia. Artinya Indonesia kurang pandai mengkapitalisasi prestasi politiknya menjadi keuntungan dalam bentuk ekonomi. Mengingat uang-uang mereka dikelola oleh para fund manager profesional lulusan Barat, maka pendekatan tradisional yang selama ini banyak diperaktekkan oleh para pejabat dan para pengusaha Indonesia sudah saatnya diubah.
Di Komisi 1 DPR RI banyak sekali gagasan segar yang kini berkembang. Sebagai contoh munculnya pertanyaan terkait kedudukan Duta Besar Indonesia untuk Palestina yang dirangkap oleh Dubes kita di Jordania dan dikendalikan melalui Amman, sementara secara geografis wilayah Gaza lebih dekat dan lebih mudah bila diurus dari Kairo. Atau pertanyaan lain; Apakah isu Palestina yang lebih banyak dibicarakan di New York, London, Paris atau Wina cukup diurus melalui Amman? Apakah tidak lebih baik mengangkat Dubes RI untuk Palestina secara tersendiri dan berkedudukan di Jakarta, sehingga ia lebih leluasa bergerak dan berpartisipasi terhadap berbagai pembicaraan tentang Palestina dimanapun dilakukan.
Apa bila hal ini dilakukan, maka disamping kita bisa berperan lebih aktif di berbagai fora internasional, memberikan dukungan lebih besar dan lebih nyata, dan secara diplomasi pengangkatan Dubes Palestina secara mandiri tanpa rangkapan akan dipandang sebagai sebuah langkah maju dibanding sebelumnya. Bahkan dalam skala yang lebih besar terkait dengan Kementerian Luar Negri juga muncul pertanyaan; Apakah tidak lebih baik jika Kementerian Luar Negri kita dimerger dengan Kementrian Perdagangan sebagaimana Australia atau Jepang. Dengan posisi Menlu sekaligus berperan sebagai Menteri Perdagangan Internasional, maka kita akan lebih bisa mengkapitalisasi prestasi-prestasi atau capaian politik global menjadi buah nyata dalam bidang ekonomi, mengingat begitu banyaknya investasi politik yang telah kita lakukan selama ini. Pertanyaan-pertanyaan ini saya kira perlu menjadi stimulan atau pemicu bagi Pemerintahan baru dalam membentuk format atau arsitektur Pemerintahan ke depan, khususnya terkait kebijakan politik luar negri terkait isu Palestina pada khususnya dan Timur Tengah pada umumnya.
•        Anggota Komisi 1 DPR RI

All the same, no one wants to educate yourself using their company have faults so comprehending the primary dos and don'ts of academic writing sample composing will assist makes practical experience less tense and many more fruitful.

There is absolutely no common web template that might work out any advanced schooling essay problem.

Then again, the subsequent requirements of generating are basic and pertinent to all sorts of scholastic essay, whatever the the school and area:

cialis super active vs cialis professionalcialis super active plus reviewsque es cialis super activecialis super active australiadoes cialis super active workcialis super active funzionawhat is cialis super active

Last Updated ( Thursday, 15 June 2017 18:05 )  

Ruang Sevila Toledo

There are no translations available.

Ruang Kelas

There are no translations available.

Ruang Diskusi

There are no translations available.

Auditorium

There are no translations available.

library 3

There are no translations available.

library 2

There are no translations available.

library

There are no translations available.

Most Recents

Interaksi Produktif Antar Warga ASEAN Bisa Hindari Perang Interaksi Produktif Antar Warga ASEAN Bisa Hindari Perang 04.12.14 - There are no translations available.   JAKARTA - Komunitas ASEAN resmi akan dimulai pada 31 Desember 2015. Semua negara ASEAN tentunya terus menyusun strategi agar kepentingan nasionalnya tidak dirugikan. Berbagai perbedaan pendapat mulai muncul antar negara ASEAN.Hariqo Wibawa Satria dari Komunitas Peduli ASEAN mengatakan, berbagai gesekan sangat mungkin terjadi di laut, udara dan perbatasan. Namun, semua itu bisa diatasi dengan aturan yang jelas dan adil."Interaksi yang produktif dan kuat a... More detail
CoC ASEAN - Tiongkok soal laut Tiongkok Selatan CoC ASEAN - Tiongkok soal laut Tiongkok Selatan 04.11.14 - There are no translations available.    Oleh : Mohammad Anthoni   " Kalaupun CoC berhasil tersusun, do dan dont dari CoC hanya akan efektif jika para pihak bisa saling menegakkan CoC." Jakarta (ANTARA News) - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada KTT ke-24 ASEAN di Nay Pyi Taw, Myanmar, Mei lalu, tegas berujar soal persoalan Laut Tiongkok Selatan "kami tidak dapat ditarik oleh Amerika Serikat atau oleh Tiongkok."Pada KTT terakhir sebelum digantikan oleh Presiden Joko Widodo per 20 O... More detail
ROARING LION AFRICA NEXT GLOBAL MARKET FRONTIER 24.10.14 - There are no translations available.By Mohammad Anthoni Jakarta, Oct 23 (Antara) - Africa's image of being ravaged by famine, civil war, malnutrition, and disease has changed to one of deliberate progress as it has become the next global market frontier, attendees of an Africa Rising seminar noted. The recent half-day seminar was organized by the embassies of various African countries and the Ministry of Foreign Affairs of the Republic of Indonesia. All five ambassadors from the African countrie... More detail
Palestina, Timur Tengah, dan Tanggung Jawab Indonesia: Menyongsong Kemerdekaan Palestina 22.09.14 - There are no translations available.Oleh: Muhammad Najib Sejak runtuhnya Kesultanan Turki Usmani 1923 yang mengontrol seluruh Timur Tengah,  pengendalian Palestina beralih sepenuhnya ke tangan Inggris. Gerakan Zionis yang lama berjuang menemukan pintu masuk sejalan dengan desain Barat pasca Perang Dunia Pertama yang ingin memecah-belah Timur Tengah dan menancapkan duri di dalamnya secara permanen.Atas restu Inggris ditandai dengan Deklarasi Balfour tahun 1917 dan Bantuan Barat,  orang-orang Y... More detail
Indonesia Is at a Crossroads - Its Future as a Pluralistic Democracy Hangs in the Balance 01.07.14 - There are no translations available.A nation "at the crossroads" is a well-worn and overused phrase, but it is one that befits Indonesia today. On 9 July, the world's largest Muslim-majority nation, third largest democracy, fourth most populous nation and south-east Asia's largest economy will elect a new President. The two candidates, Prabowo Subianto and Joko Widodo (known as "Jokowi") represent a very clear and contrasting choice: between the past and the future, a return to authoritarianism... More detail

Event

AKSES KEADILAN BURUH MIGRAN INDONESIA JADI SOROTAN AKSES KEADILAN BURUH MIGRAN INDONESIA JADI SOROTAN 28.10.13 - There are no translations available.     Persoalan buruh migran mengemuka dalam acara peluncuran laporan berjudul ‘Akses Keadilan Buruh Migran Indonesia di Negara Asal: Studi Kasus Indonesia’ yang diselenggarakan di Paramadina Graduate School Jakarta pada Rabu (16/10). Laporan penelitian ini memetakan dan mengevaluasi opsi ganti rugi yang tersedia bagi buruh migran di negara asalnya. Akademisi hukum senior Bassina Farbenblum dan Eleanor Taylor-Nicholson dari Universitas New Sout... More detail
FORUM KAJIAN PEMBANGUNAN: Multi-dimensional poverty of children in Indonesia: Introducing the associative approach in policy making 22.10.13 - There are no translations available. FORUM KAJIAN PEMBANGUNAN Bersama ini mengundang Bapak/Ibu/Saudara/Saudari untuk menghadiri seri Forum Kajian Pembangunan, dengan Universitas Paramadina sebagai tuan rumah pada bulan Oktober 2013, dengan program acara sebagai berikut: Jumat, 25 Oktober, 14.00 - 15.30 WIBRuang Toledo, Kampus Pascasarjana Universitas Paramadina. The Energy Building, lantai 22, SCBD Lot 11A, Jl. Jend. Sudirman 52-53, Jakarta.Multi-dimensional pov... More detail
Great Britain Week Launch Great Britain Week Launch 17.09.13 - There are no translations available.     British Embassy Jakarta will hold a “GREAT Britain Week” in Senayan City mall from 17-22 Septeember 2013. “GREAT Britain Week” is a series of high profile events showcasing the very best of British products from innovation, technology, education, fashion, sports, tourism and music. The event features the presence of experts in respective sectors from fashion designers, music bands, professors, local celebrities/models to the fastest man in th... More detail
His Royal Highness Prince Andrew To Visit Indonesia His Royal Highness Prince Andrew To Visit Indonesia 17.09.13 - There are no translations available.   His Royal Highness Prince Andrew, the Duke of York, will visit Indonesia from 18 to 20 September 2013. The visit will focus on deepening UK bilateral relations including in trade and investment, science and innovation as well as education.   During his visit, Prince Andrew will meet Vice President Prof Dr Boediono, Co-ordinating Minister for Economic Affairs Hatta Rajasa and Trade Minister Gita Wirjawan. The visit also involves His Royal Highness at... More detail
4000 ASEAN Holding Hands around Monas 4000 ASEAN Holding Hands around Monas 17.09.13 - There are no translations available.       The local community commonly spend their Sundays with their familys. The people of Jakarta generally enjoy exercising around the area of the National Monument (Monas). However, there was something different about Monas on Sunday (15 September 2013). Thousands of people visiting Monas held hands together encircling Jakarta's well-renowned symbol. Men and women, young and old, all crossed one hand over the other around the Monas perimeter. These we... More detail

JEvents Calendar

March 2000
S M T W T F S
27 28 29 1 2 3 4
5 6 7 8 9 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30 31 1

News

Interaksi Produktif Antar Warga ASEAN Bisa Hindari Perang Interaksi Produktif Antar Warga ASEAN Bisa Hindari Perang 04.12.14 - There are no translations available.   JAKARTA - Komunitas ASEAN resmi akan dimulai pada 31 Desember 2015. Semua negara ASEAN tentunya terus menyusun strategi agar kepentingan nasionalnya tidak dirugikan. Berbagai perbedaan pendapat mulai muncul antar negara ASEAN.Hariqo Wibawa Satria dari Komunitas Peduli ASEAN mengatakan, berbagai gesekan sangat mungkin terjadi di laut, udara dan perbatasan. Namun, semua itu bisa diatasi dengan aturan yang jelas dan adil."Interaksi yang produktif dan kuat a... More detail
CoC ASEAN - Tiongkok soal laut Tiongkok Selatan CoC ASEAN - Tiongkok soal laut Tiongkok Selatan 04.11.14 - There are no translations available.    Oleh : Mohammad Anthoni   " Kalaupun CoC berhasil tersusun, do dan dont dari CoC hanya akan efektif jika para pihak bisa saling menegakkan CoC." Jakarta (ANTARA News) - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada KTT ke-24 ASEAN di Nay Pyi Taw, Myanmar, Mei lalu, tegas berujar soal persoalan Laut Tiongkok Selatan "kami tidak dapat ditarik oleh Amerika Serikat atau oleh Tiongkok."Pada KTT terakhir sebelum digantikan oleh Presiden Joko Widodo per 20 O... More detail
ROARING LION AFRICA NEXT GLOBAL MARKET FRONTIER 24.10.14 - There are no translations available.By Mohammad Anthoni Jakarta, Oct 23 (Antara) - Africa's image of being ravaged by famine, civil war, malnutrition, and disease has changed to one of deliberate progress as it has become the next global market frontier, attendees of an Africa Rising seminar noted. The recent half-day seminar was organized by the embassies of various African countries and the Ministry of Foreign Affairs of the Republic of Indonesia. All five ambassadors from the African countrie... More detail
Palestina, Timur Tengah, dan Tanggung Jawab Indonesia: Menyongsong Kemerdekaan Palestina 22.09.14 - There are no translations available.Oleh: Muhammad Najib Sejak runtuhnya Kesultanan Turki Usmani 1923 yang mengontrol seluruh Timur Tengah,  pengendalian Palestina beralih sepenuhnya ke tangan Inggris. Gerakan Zionis yang lama berjuang menemukan pintu masuk sejalan dengan desain Barat pasca Perang Dunia Pertama yang ingin memecah-belah Timur Tengah dan menancapkan duri di dalamnya secara permanen.Atas restu Inggris ditandai dengan Deklarasi Balfour tahun 1917 dan Bantuan Barat,  orang-orang Y... More detail
Indonesia Is at a Crossroads - Its Future as a Pluralistic Democracy Hangs in the Balance 01.07.14 - There are no translations available.A nation "at the crossroads" is a well-worn and overused phrase, but it is one that befits Indonesia today. On 9 July, the world's largest Muslim-majority nation, third largest democracy, fourth most populous nation and south-east Asia's largest economy will elect a new President. The two candidates, Prabowo Subianto and Joko Widodo (known as "Jokowi") represent a very clear and contrasting choice: between the past and the future, a return to authoritarianism... More detail

English (UK)