Jakarta (ANTARA News) - Mantan Duta Besar RI untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa Makarim Wibisono terpilih secara aklamasi sebagai "special rapporteur" mengenai Hak Asasi Manusia (HAM) di wilayah-wilayah Palestina yang diduduki Israel dalam sidang Dewan HAM PBB di Jenewa, Kamis.

"Saya terpilih untuk menggantikan Richard Falk, seorang akademisi dari Amerika Serikat, yang mandatnya selesai 1 Mei lalu" kata Makarim kepada Antara di Jakarta, Kamis, sejam setelah ia menerima pemberitahuan tentang pemilihan di Dewan HAM PBB tersebut.

Pembahasan soal pengganti Falk sempat tertunda selama satu bulan dan Dewan HAM PBB memilih Makarim dari Indonesia, yang mengalahkan Christine Chinkin, seorang guru besar dari London School of Economics.

Semula ada lima calon yang diajukan untuk menjadi "special rapporteur" tersebut dan lewat seleksi kemudian tersisa dua orang yakni Prof. Christine Chinkin dan Makarim Wibisono.

"Sebagai wakil RI, saya mendapat tugas secara politik dan menangani masalah sensitif," kata Makarim yang dihubungi lewat telepon.

Menurut dia, tugas pokok sebagai "tangan" PBB di wilayah tersebut ialah melihat dan memantau pelanggaran hak sipil, hak ekonomi dan hak budaya di wilayah-wilayah Palestina yang diduduki Israel.

"Saya akan bekerja secara obyektif dan mulai bekerja dengan sikap tidak memihak," kata Makarim, mantan direktur eksekutif ASEAN Foundation.

Dia mengatakan lebih jauh bahwa dulu special rapporteur PBB mendapat kesulitan untuk melakukan tugasnya ke wilayah-wilayah pendudukan Palestina di Gaza dan Tepi Barat.

Tapi Makarim, yang pernah menjadi Ketua Komisi Hak Asasi Manusia PBB dan dikenal sebagai pimpinan komisi itu yang bersikap obyektif dan tidak memihak, berharap aksesnya ke wilayah-wilayah tersebut terbuka luas sehingga dapat memberikan laporan-laporan obyektif.

Media Israel melansir berita-berita tentang terpilihnya diplomat senior RI, Makarim Wibisono, sebagai special rapporteur.

"Mereka teriak-teriak dengan memberitakan nama-nama tokoh yang membela rakyat Palestina dan anti Israel termasuk nama saya sebaiknya ditolak," kata Makarim.

The Times of Israel dalam lamannya menulis judul berita "Outspoken Israel critic set to replace Falk as UN monitor". "Akademisi Amerika disisihkan karena tekanan Arab diberitakan memberikan pos bergengsi mengenai HAM Palestina kepada utusan Indonesia," tulisnya.

Sebelum menjadi Duta Besar RI untuk PBB, Makarim juga pernah menjabat sebagai Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh RI untuk Guatemala, Nikaragua, Jamaika, dan Bahama (1997--2001), Direktur Jenderal Hubungan Ekonomi Luar Negeri di Departemen Luar Negeri (2000--2002), serta Direktur Jenderal Asia Pasifik dan Afrika (2002--2004).

Dia pernah menjadi Ketua Grup-77 dan Tiongkok 1998 dan juga menjadi orang Indonesia pertama yang menjadi President Economic and Social Council di PBB New York.

Pada 17 Januari 2011, Makarim menduduki kursi Direktur Eksekutif ASEAN Foundation menggantikan Dr Filemon A Uriarte, Jr., hingga Februari 2014.(*)