Paramadina Graduate Schools

Home News Perang Bintang di Malaka

Perang Bintang di Malaka

E-mail Cetak PDF

 

Oleh : Abdul Halim

KONFLIK sengketa perairan di Laut China Selatan yang melibatkan empatnegara anggota ASEAN (Vietnam, Filipina, Brunei, dan Malaysia) plus Taiwandan China memasuki babak baru.Penolakan Beijing atas rencana kedatangan Presiden Filipina Benigno Aquino IIIke Pameran China–ASEAN Expo di Nanning, Provinsi Guangxi, China selatanmenjadi penanda eskalasi perseteruan klaim di kawasan Paracel dan Spratly.Perseteruan klaim perbatasan ini, meminjam pernyataan pakar geografi politik Theodore Ratzel, merupakan barometer bagi keselamatan suatu negaramaupun dalam hubungannya dengan negara lain. Di dalam isu ”tapal batas”itulah terletak berbagai persoalan tentang identitas, sumber daya, dankedaulatan, serta silang selisih antarentitas politik (Anggoro, 2005).Bagaimana dengan Indonesia? Berbatasan dengan 10 negara, bukan tanpapersoalan tapal batas. Kendati demikian, secara geopolitik, letak Indonesia diantara dua benua (Asia dan Australia) dan dua samudera (Pasifik dan Hindia),serta memiliki 4 dari 7 rute pelayaran yang berada di seluruh duniamenjadikannya sangat strategis. Satu di antaranya Selat Malaka. Selat Malakaadalah jalur laut terpenting di dunia yang dilintasi oleh sekitar 30%perdagangan dan 50% energi dunia tiap tahun dari Eropa dan Timur Tengah keAsia Timur (Bateman, 2006).Kondisi ini menempatkan Malaka sebagai selat tersibuk dan pusat gravitasinegara-negara adikuasa dunia seperti Amerika Serikat, China, India, dan Jepang, di mana kepentingan ekonomi, lalu lintas perdagangan, maupunstrategi militer pelbagai negara, utamanya negara-negara besar, sepertiAmerika Serikat, China, Jepang, dan India, bertemu.Posisi selat ini termasuk jalur komunikasi laut (SLoC/sea lanes of communication) terpadat setelah Selat Hormuz untuk perdagangan dan alurminyak dunia jika dibandingkan dengan selat-selat lainnya antara lain SelatBosporus di Turki, Terusan Suez di Mesir, Selat Bab al-Mandab di antara Afrikadan Yaman, Terusan Panama, dan Selat Denmark di Denmark. Sifat strategisSelat Malaka sebagai jalur komunikasi laut utama ini telah menyebabkanbanyak negara ingin mengontrolnya, termasuk Amerika Serikat (AS), China, Jepang, dan India. Tak hanya itu, negara-negara dengan kekuatan laut di kawasan juga bersainguntuk mendominasi jalur maritim di Asia ini. Persaingan ini dipicu olehkepentingan ekonomi pelbagai negara yang terus membesar dari tahun ketahun. Cleary dan Chuan (2000) menyebutkan bahwa; (1) Sekitar 200 kapal perhari dan 150 tanker tiap menitnya melewati perairan Selat Malaka; (2) Sekitar72 persen kapal tanker melewati jalur ini dan hanya 28% lainnya melalui SelatMakasar dan Selat Lombok; dan (3) Perputaran uang di selat ini berkisar USD84miliar hingga USD250 miliar per tahun.

Dilihat dari jumlah kapal, dalam hitungan tahun terdapat lebih dari 60.000kapal yang berlayar melintasi Selat Malaka dengan membawa aneka macamkargo, dari minyak mentah hingga produk jadi yang berasal dari berbagaipenjuru dunia. Angka ini hampir tiga kali lipat dari jumlah kapal yang berlayarmelalui Terusan Panama dan lebih dari dua kali lipat dari Terusan Suez. Takmengherankan, sejak 2004 Amerika Serikat terus berupaya untukmendapatkan akses secara langsung dalam mengelola Selat Malaka denganmembentukRegional Maritime Security Initiative (RMSI). Jepang juga tidak mau ketinggalan untuk terlibat dalam pengelolaan SelatMalaka. Kontestasi perebutan pengaruh dan ruang kelola di Selat Malaka diantara negara-negara besar juga terjadi di ASEAN. Singapura misalnyamenyepakati masuknya negara non-ASEAN untuk ikut mengelola selat.Sebaliknya, Indonesia dan Malaysia tegas menolak berbagai bentuk intervensi.Dalam situasi inilah ASEAN dipandang lebih efektif untuk menjaga keselamatanpelayaran dan menguatkan masyarakat regional Asia Tenggara ketimbangSistem Aliansi Amerika Serikat (US Led Alliance System) dalam meresponsancaman keamanan nontradisional seperti perselisihan tapal-batas,pembajakan, penyelundupan, pencemaran laut, perdagangan manusia danobat-obatan terlarang, serta pencurian ikan.Saat ini terdapat tiga negara ASEAN yang memiliki kepentingan dan nilaistrategis yang berbeda di Selat Malaka yakni Indonesia, Malaysia, danSingapura. Dua negara yang disebut pertama adalah negara pantai yangmemiliki klaim wilayah teritorial di perairan Selat Malaka. Dua negara yangdisebut di awal juga lebih fokus pada kepentingan perikanannya dan ancamankerusakan lingkungan seperti polusi laut yang disebabkan aktivitas kapal,perdagangan manusia, senjata, dan obat-obatan yang diselundupkan melaluiSelat Malaka.Sebaliknya, Singapura yang tidak memiliki klaim wilayah atas perairan SelatMalaka justru fokus pada upaya mengatasi pembajakan dan terorisme.Indonesia, sebagai salah satu negara pantai pengelola selat, nyatanya harusberhadapan dengan berbagai potensi konflik tradisional seperti separatisbersenjata, sengketa perbatasan, sabotase terhadap instalasi-instalasistrategis, perlindungan atas jalur laut, dan perlindungan sumber daya. Seluruhancaman ini berpengaruh terhadap keutuhan wilayah, kedaulatan otoritaspolitik, keselamatan warga negara, dan/atau kombinasi ancaman tersebut(Anggoro, 2006).Meskipun Indonesia memiliki perjalanan sejarah ketangguhan pelayaran yangpanjang, berbagai persoalan mendasar justru masih dihadapi sepertirendahnya penguasaan teknologi, rendahnya alokasi perhatian dan anggaranpada bidang teknologi kelautan, dan kesulitan mengoordinasikan instansi-instansi pemerintah yang bertanggung jawab kepada persoalan kelautan (Cribbdan Ford, 2009). Negara bahkan harus kehilangan potensi pendapatan puluhantriliun rupiah setiap tahunnya dari potensi ekonomi.Delapanpuluhpersenwilayah Selat Malaka sejatinya berada di wilayah TanahAir, namun dari sisi pemanfaatan wilayah perairannya masih jauh tertinggal

dibanding Singapura ataupun Malaysia. Selama ini dua negara tetanggatersebut, khususnya Singapura, sejak lama menikmati puluhan triliun rupiahsetiap bulan dari bisnis pelayaran dan perkapalan di Selat Malaka. Contohnyata bidang usaha jasa pandu kapal, Singapura diperkirakan berhasilmengantongi separo dari omzet bisnis atau sekitar Rp30 triliun setiap tahun. Tidak hanya itu, Singapura juga menikmati pendapatan dari biaya lego jangkardan labuh kapal yang nilainya mencapai puluhan triliun rupiah setiap bulan.Negara itu juga menikmati pendapatan dari penjualan air bersih dan bahanbakar minyak yang nilainya juga mencapai puluhan triliun rupiah setiap bulan.Kuatnya klaim Indonesia di Selat Malaka menempatkannya sebagai negarayang berada di tengah lokus kesalingtergantungan negara-negara penggunaseperti Amerika Serikat, China, Jepang, India, dan disusul Korea Selatan.Kendati demikian, jika keterbatasan yang dihadapi oleh Indonesia tidak kunjungteratasi, besar kemungkinan klaim tersebut lambat laun akan melemah seiringsemakin kuatnya kapasitas militer negara-negara pantai dan pengguna selat.Disharmonisasi antarinstansi pemerintah menjadi penyebab utama disfungsikoordinasi dan implementasi aturan tersebut misalnya Badan KoordinasiKeamanan Laut yang disokong Peraturan Presiden Nomor 81 Tahun 2005tentang Bakorkamla, beranggotakan 13 kementerian, termasuk lembagakeamanan nasional. Karena itu, diperlukan pembenahan mendasar bagikepemimpinan Republik Indonesia ke depan, terlebih jelang Pemilu 2014, agarmampu memandang laut sebagai titik beranjaknya pengelolaan dan diplomasilaut Indonesia.Kasus Malaka memberi pelajaran bahwa laut adalah ruang pertarunganIndonesia sesungguhnya untuk mengembalikan kejayaan dan kesejahteraanrakyatnya. Untuk mengawali itu, kombinasi diplomasi
hard-soft power harusdijadikan sebagai alat perjuangan kepentingan nasional.ABDUL HALIMSekretaris Jenderal Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA); Fellowpada Sekolah Pascasarjana Universitas Paramadina, Jakarta

cialis super active cheapcialis super active descriptioncialis super active wirkungcialis super active canadacialis super active opinionescialis super active 20mg aviscialis super active plus

Terakhir Diperbaharui ( Kamis, 15 Juni 2017 17:25 )  

Ruang Sevila Toledo

Ruang Kelas

Ruang Diskusi

Auditorium

library 3

library 2

library

Most Recents

Interaksi Produktif Antar Warga ASEAN Bisa Hindari Perang Interaksi Produktif Antar Warga ASEAN Bisa Hindari Perang 04.12.14 -   JAKARTA - Komunitas ASEAN resmi akan dimulai pada 31 Desember 2015. Semua negara ASEAN tentunya terus menyusun strategi agar kepentingan nasionalnya tidak dirugikan. Berbagai perbedaan pendapat mulai muncul antar negara ASEAN.Hariqo Wibawa Satria dari Komunitas Peduli ASEAN mengatakan, berbagai gesekan sangat mungkin terjadi di laut, udara dan perbatasan. Namun, semua itu bisa diatasi dengan aturan yang jelas dan adil."Interaksi yang produktif dan kuat antar sesama warga negara di ASEAN bi... More detail
CoC ASEAN - Tiongkok soal laut Tiongkok Selatan CoC ASEAN - Tiongkok soal laut Tiongkok Selatan 04.11.14 -     Oleh : Mohammad Anthoni   " Kalaupun CoC berhasil tersusun, do dan dont dari CoC hanya akan efektif jika para pihak bisa saling menegakkan CoC." Jakarta (ANTARA News) - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada KTT ke-24 ASEAN di Nay Pyi Taw, Myanmar, Mei lalu, tegas berujar soal persoalan Laut Tiongkok Selatan "kami tidak dapat ditarik oleh Amerika Serikat atau oleh Tiongkok."Pada KTT terakhir sebelum digantikan oleh Presiden Joko Widodo per 20 Oktober lalu itu, SBY juga meminta ke... More detail
ROARING LION AFRICA NEXT GLOBAL MARKET FRONTIER 24.10.14 - By Mohammad Anthoni Jakarta, Oct 23 (Antara) - Africa's image of being ravaged by famine, civil war, malnutrition, and disease has changed to one of deliberate progress as it has become the next global market frontier, attendees of an Africa Rising seminar noted. The recent half-day seminar was organized by the embassies of various African countries and the Ministry of Foreign Affairs of the Republic of Indonesia. All five ambassadors from the African countries of Zimbabwe, South Africa, Nigeria... More detail
Palestina, Timur Tengah, dan Tanggung Jawab Indonesia: Menyongsong Kemerdekaan Palestina 22.09.14 - Oleh: Muhammad Najib Sejak runtuhnya Kesultanan Turki Usmani 1923 yang mengontrol seluruh Timur Tengah,  pengendalian Palestina beralih sepenuhnya ke tangan Inggris. Gerakan Zionis yang lama berjuang menemukan pintu masuk sejalan dengan desain Barat pasca Perang Dunia Pertama yang ingin memecah-belah Timur Tengah dan menancapkan duri di dalamnya secara permanen.Atas restu Inggris ditandai dengan Deklarasi Balfour tahun 1917 dan Bantuan Barat,  orang-orang Yahudi dari seluruh penjuru dunia ter... More detail
Indonesia Is at a Crossroads - Its Future as a Pluralistic Democracy Hangs in the Balance 01.07.14 - A nation "at the crossroads" is a well-worn and overused phrase, but it is one that befits Indonesia today. On 9 July, the world's largest Muslim-majority nation, third largest democracy, fourth most populous nation and south-east Asia's largest economy will elect a new President. The two candidates, Prabowo Subianto and Joko Widodo (known as "Jokowi") represent a very clear and contrasting choice: between the past and the future, a return to authoritarianism or a deepening of democracy, and be... More detail

Event

AKSES KEADILAN BURUH MIGRAN INDONESIA JADI SOROTAN AKSES KEADILAN BURUH MIGRAN INDONESIA JADI SOROTAN 28.10.13 -     Persoalan buruh migran mengemuka dalam acara peluncuran laporan berjudul ‘Akses Keadilan Buruh Migran Indonesia di Negara Asal: Studi Kasus Indonesia’ yang diselenggarakan di Paramadina Graduate School Jakarta pada Rabu (16/10). Laporan penelitian ini memetakan dan mengevaluasi opsi ganti rugi yang tersedia bagi buruh migran di negara asalnya. Akademisi hukum senior Bassina Farbenblum dan Eleanor Taylor-Nicholson dari Universitas New South Wales dan Sarah Paoletti dari Univ... More detail
FORUM KAJIAN PEMBANGUNAN: Multi-dimensional poverty of children in Indonesia: Introducing the associative approach in policy making 22.10.13 - FORUM KAJIAN PEMBANGUNAN Bersama ini mengundang Bapak/Ibu/Saudara/Saudari untuk menghadiri seri Forum Kajian Pembangunan, dengan Universitas Paramadina sebagai tuan rumah pada bulan Oktober 2013, dengan program acara sebagai berikut: Jumat, 25 Oktober, 14.00 - 15.30 WIBRuang Toledo, Kampus Pascasarjana Universitas Paramadina. The Energy Building, lantai 22, SCBD Lot 11A, Jl. Jend. Sudirman 52-53, Jakarta.Multi-dimensional poverty of children in Indonesia: In... More detail
Great Britain Week Launch Great Britain Week Launch 17.09.13 -     British Embassy Jakarta will hold a “GREAT Britain Week” in Senayan City mall from 17-22 Septeember 2013. “GREAT Britain Week” is a series of high profile events showcasing the very best of British products from innovation, technology, education, fashion, sports, tourism and music. The event features the presence of experts in respective sectors from fashion designers, music bands, professors, local celebrities/models to the fastest man in the world! The Great Britain Week cele... More detail
His Royal Highness Prince Andrew To Visit Indonesia His Royal Highness Prince Andrew To Visit Indonesia 17.09.13 -   His Royal Highness Prince Andrew, the Duke of York, will visit Indonesia from 18 to 20 September 2013. The visit will focus on deepening UK bilateral relations including in trade and investment, science and innovation as well as education.   During his visit, Prince Andrew will meet Vice President Prof Dr Boediono, Co-ordinating Minister for Economic Affairs Hatta Rajasa and Trade Minister Gita Wirjawan. The visit also involves His Royal Highness attending a number of public events, i... More detail
4000 ASEAN Holding Hands around Monas 4000 ASEAN Holding Hands around Monas 17.09.13 -       The local community commonly spend their Sundays with their familys. The people of Jakarta generally enjoy exercising around the area of the National Monument (Monas). However, there was something different about Monas on Sunday (15 September 2013). Thousands of people visiting Monas held hands together encircling Jakarta's well-renowned symbol. Men and women, young and old, all crossed one hand over the other around the Monas perimeter. These were not only Jakarta citizens, but al... More detail

JEvents Calendar

September 2002
S M T W T F S
1 2 3 4 5 6 7
8 9 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30 1 2 3 4 5

News

Interaksi Produktif Antar Warga ASEAN Bisa Hindari Perang Interaksi Produktif Antar Warga ASEAN Bisa Hindari Perang 04.12.14 -   JAKARTA - Komunitas ASEAN resmi akan dimulai pada 31 Desember 2015. Semua negara ASEAN tentunya terus menyusun strategi agar kepentingan nasionalnya tidak dirugikan. Berbagai perbedaan pendapat mulai muncul antar negara ASEAN.Hariqo Wibawa Satria dari Komunitas Peduli ASEAN mengatakan, berbagai gesekan sangat mungkin terjadi di laut, udara dan perbatasan. Namun, semua itu bisa diatasi dengan aturan yang jelas dan adil."Interaksi yang produktif dan kuat antar sesama warga negara di ASEAN bi... More detail
CoC ASEAN - Tiongkok soal laut Tiongkok Selatan CoC ASEAN - Tiongkok soal laut Tiongkok Selatan 04.11.14 -     Oleh : Mohammad Anthoni   " Kalaupun CoC berhasil tersusun, do dan dont dari CoC hanya akan efektif jika para pihak bisa saling menegakkan CoC." Jakarta (ANTARA News) - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada KTT ke-24 ASEAN di Nay Pyi Taw, Myanmar, Mei lalu, tegas berujar soal persoalan Laut Tiongkok Selatan "kami tidak dapat ditarik oleh Amerika Serikat atau oleh Tiongkok."Pada KTT terakhir sebelum digantikan oleh Presiden Joko Widodo per 20 Oktober lalu itu, SBY juga meminta ke... More detail
ROARING LION AFRICA NEXT GLOBAL MARKET FRONTIER 24.10.14 - By Mohammad Anthoni Jakarta, Oct 23 (Antara) - Africa's image of being ravaged by famine, civil war, malnutrition, and disease has changed to one of deliberate progress as it has become the next global market frontier, attendees of an Africa Rising seminar noted. The recent half-day seminar was organized by the embassies of various African countries and the Ministry of Foreign Affairs of the Republic of Indonesia. All five ambassadors from the African countries of Zimbabwe, South Africa, Nigeria... More detail
Palestina, Timur Tengah, dan Tanggung Jawab Indonesia: Menyongsong Kemerdekaan Palestina 22.09.14 - Oleh: Muhammad Najib Sejak runtuhnya Kesultanan Turki Usmani 1923 yang mengontrol seluruh Timur Tengah,  pengendalian Palestina beralih sepenuhnya ke tangan Inggris. Gerakan Zionis yang lama berjuang menemukan pintu masuk sejalan dengan desain Barat pasca Perang Dunia Pertama yang ingin memecah-belah Timur Tengah dan menancapkan duri di dalamnya secara permanen.Atas restu Inggris ditandai dengan Deklarasi Balfour tahun 1917 dan Bantuan Barat,  orang-orang Yahudi dari seluruh penjuru dunia ter... More detail
Indonesia Is at a Crossroads - Its Future as a Pluralistic Democracy Hangs in the Balance 01.07.14 - A nation "at the crossroads" is a well-worn and overused phrase, but it is one that befits Indonesia today. On 9 July, the world's largest Muslim-majority nation, third largest democracy, fourth most populous nation and south-east Asia's largest economy will elect a new President. The two candidates, Prabowo Subianto and Joko Widodo (known as "Jokowi") represent a very clear and contrasting choice: between the past and the future, a return to authoritarianism or a deepening of democracy, and be... More detail

Indonesian (ID)