Paramadina Graduate Schools

News



Students Writing: Potret merdeka, sejarah untuk masa depan kita

E-mail Cetak PDF

 

Oleh Dyah Sulistyorini

" Penggunaan aplikasi Augmented Reality ini dirancang agar muncul kemasan baru yang cukup interaktif dan inovatif dalam kerangka edukasi sejarah kemerdekaan "

 

Apa yang terjadi di Indonesia setelah pembacaan naskah proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945? Selain gema kemerdekaan yang disambut gembira di seluruh wilayah tanah air, sejarah juga menceritakan ada pihak-pihak yang belum rela negara baru bernama Republik Indonesia ini berdiri.

Salah satu pihak yang "keukeuh" tidak mengakui kemerdekaan Indonesia yang diproklamasikan Soekarno-Hatta adalah kaum kolonialis Belanda. Seusai Jepang kalah dalam perang dunia kedua, tentara Belanda (Netherlands-Indies Civil Administration/NICA) kembali masuk ke Indonesia dengan membonceng tentara sekutu. Perangpun kembali berkecamuk, diselingi pergantian pemerintahan, perundingan yang membuat penyusutan wilayah Indonesia.

Situasi awal Republik Indonesia yang baru berdiri itu, berusaha direkonstruksi kembali dalam buku fotografi jurnalistik berjudul 70th HistoRI Masa Depan.

Dalam buku ini, jejak yang didokumentasikan bukan hanya gambaran kengerian dan kegetiran perang, namun ditampilkan juga peran pers dan pemberitaan serta keterlibatan masyarakat sipil menyokong kemerdekaan. Beberapa foto memperlihatkan coretan bertema semangat nasionalisme di gerbong kereta, trem dan dinding. Salah satunya ada di buku yang bersampul merah dengan coretan "merdeka ataoe mati" di kereta yang membawa presiden Republik Indonesia berpindah dari ibu kota Jakarta ke Yogyakarta.

Beberapa foto tentang perawatan medis, Pemuda Pandu, dirangkai berhadapan seolah memperbandingkan bagaimana penanganan darurat tentara Indonesia yang terluka dan bagaimana perawatan sebaliknya di pihak musuh.

Menurut Oscar Motuloh, kurator buku foto tersebut, tujuan pembuatan buku adalah untuk menyegarkan kembali ingatan kita terhadap sejarah visual Indonesia agar tak seolah repetitif, seperti digelar hanya saat Agustus-an belaka. Sejarah visual adalah identitas kita.

Oscar yang cukup lama berkecimpung di dunia fotografi serta banyak berpameran di dalam dan luar negeri ini juga menyinggung perlunya meremajakan sejarah Indonesia.

"Sejarah visual adalah fakta terpenting untuk merancangbangun masa depan kita," kata pembuat buku fotografi "East Timor, A Photographic Record", "Marinir" dan lain-lain yang pernah mengenyam pendidikan fotografi di Hanoi (1991) and Tokyo (1993).

Buku foto berukuran 20 cm x 15 cm tersebut dibagi menjadi tiga jilid buku untuk membedakan temanya. Buku pertama berwarna merah yang berisi foto-foto yang bertema revolusi fisik. Buku kedua berwarna putih berisi foto uang zaman dulu, kartupos serta sketsa bertema peran pers dan propaganda. Sedang buku ketiga berwarna jingga yang isinya tentang "human interest".

Ketiga buku tersebut disatukan secara artistik dengan sampul kertas yang gambarnya menyiratkan tanda tanya. Foto sambul "sedikit aneh" karena memperlihatkan poster Bung Karno yang ditempel di depan kendaraan tank yang dinaiki tentara-tentara Belanda dengan wajah-wajah ceria, seolah menyiratkan dukungannya untuk Bung Karno.

Menurut Oscar, foto itu adalah koleksi Museum Broonbek Belanda yakni museum perang yang letaknya di perbatasan dengan Jerman. Sebagian besar koleksi foto Museum Bronbeek berasal dari dokumentasi pasukan KNIL (Koninklijke Nederlands Indische Leger), Tentara Kerajaan Hindia Belanda. "Foto ini tergolong langka dan belum ada yang mempublikasikannya," ujar Oscar tentang latar belakang pemilihan cover.

"Kenapa para serdadu Belanda itu terlihat gembira? Rupanya penempelan poster Bung Karno di depan mesin perang adalah aksi teatrikal tentara Belanda yang kebetulan menemukan poster Bung Karno di jalan, nah justru di sini daya tariknya," ujar pendiri Galeri Foto Jurnalistik Antara (GFJA) itu.

Buku terbitan Kantor Berita Antara ini menyajikan dua foto "hidup" karena dilengkapi dengan teknologi Augmented Reality (AR) berbasis Android.

Augmented Reality adalah teknologi yang menggabungkan benda maya (dua atau tiga dimensi) ke dalam sebuah lingkungan nyata lalu memproyeksikannya secara seketika. Teknologi ini memungkinkan kita bisa berinteraksi dengan gambar melalui tambahan informasi berbentuk teks dan suara seiring pergeseran gadget di atas foto tertentu dalam buku.

Ada dua gambar yang bisa dilihat dengan aplikasi Augmented Reality yakni foto peta tua kota Jakarta tahun 1945 yang terdapat di halaman 21 pada buku I yang sampulnya berwarna merah. Foto lainnya adalah gedung Pola di halaman terakhir pada buku III, buku sampul jingga. Penggunaan aplikasi Augmented Reality ini dirancang agar muncul kemasan baru yang cukup interaktif dan inovatif dalam kerangka edukasi sejarah kemerdekaan.

Berbahagialah yang memiliki indra untuk melihat, sehingga orisinalitas kekuatan foto jurnalistik ini mampu dirasakan. Hal ini terlihat dari cara penyusunan foto jenderal besar Sudirman yang memakai peci ciri khas Indonesia yang disandingkan berhadapan dengan jenderal Spoor. Kemudian juga foto mobil yang dikendarai serdadu musuh, dalam buku itu letaknya dibuat berhadapan dengan foto mobil yang dikendarai tokoh Republik Indonesia. Demikian juga dengan pesawat udara yang membawa bung Karno, letaknya di buku dibuat berhadapan dengan pesawat udara di pihak lawan.

Mungkin untuk edisi mendatang buku ini bisa dilengkapi dengan deskripsi berbentuk suara dari sang kurator untuk memperkuat analisa dari sudut pandang foto jurnalistik, sekaligus membantu orang awam bahkan saudara kita yang memiliki keterbatasan penglihatan agar bisa merasakan gelora patriotismenya.

Sejatinya buku fotografi ini mampu menuntaskan rasa ingin tahu kita tentang sejarah di awal kemerdekaan Indonesia, karena isinya banyak yang belum pernah dipublikasikan.

Foto-foto tersebut sebagian diperoleh dari dokumentasi Kantor Berita Foto pertama di Indonesia IPPHOS (Indonesia Press Photo Services). Beberapa foto diperoleh dari koleksi foto Museum Bronbeek, yang dahulunya adalah sebuah istana di kota Arnhem Belanda, namun saat ini telah menjadi museum dan sebagai rumah bagi para veteran.

Kantor Berita Antara bekerja sama dengan Museum Broonbeek, untuk melihat peristiwa masa lalu dari dokumentasi foto. Tentu saja Indonesia memiliki cara pandang sendiri dalam melihat rekaman peristiwa yang terjadi pada kurun waktu 1945--1950, demikian sebaliknya, pihak Belanda.

Menurut Hermanus Prihatna, Kepala Divisi Pemberitaan Foto Kantor Berita Antara, tim-nya diberi keleluasaan untuk melakukan riset foto.

"Kami diberi keleluasaan untuk memilah dan memilih foto-foto mana saja yang akan ditampilkan dalam pameran dan buku, namun sayang keterbatasan waktu untuk meriset masih menjadi kendala," kata Hermanus yang juga seorang fotografer senior itu.

Buku foto ini adalah pelengkap bagi materi pameran bersama Museum Bronbeek dengan Kantor Berita Antara. Pameran foto bersama ini diselenggarakan di dua kota di negera masing-masing.

Hal menarik adalah kemunculan 13 foto milik Yayasan Bung yang berisi berbagai sudut pengambilan gambar saat proklamasi dikumandangkan. Walaupun dari teori komunikasi "framing", foto-foto ini sangat bisa diperdebatkan.

Buku ini bentuknya tidak begitu besar agar mudah dibawa dan harganya pun relatif terjangkau. Buku ini hanya dicetak terbatas, namun masyarakat bisa mendapatkannya melalui Divisi Pemberitaan Foto Antara di Pasar Baru.

Tidak bisa dimungkiri bahwa sejarah ternyata mampu dilihat lebih nyata dalam bentuk imaji visual, tampaknya inilah kekuatan buku itu. Sejarah juga bisa dilihat tidak linear namun sangat banyak elemen saling silang bahkan simultan yang saling mengiringi. Di sini juga terbaca bagaimana peran jurnalis, peran pembuat poster, peran kaum wanita, tenaga medis dan dapur umum menyokong kemerdekaan Indonesia.

Bagi sejarawan serta masyarakat internasional, buku ini bisa dipandang sebagai pesan visual yang sarat dengan unsur perjuangan dan kemanusiaan, potret-potret untuk melengkapi sejarah perjalanan berdirinya sebuah bangsa.

 

Sumber: http://www.antaranews.com/berita/514973/potret-merdeka-sejarah-untuk-masa-depan-kita

Terakhir Diperbaharui ( Selasa, 01 September 2015 18:08 )
 

Seminar Sehari BPJS Ketenagakerjaan

E-mail Cetak PDF

BPJS Ketenagakerjaan Beroperasi Penuh

"Era Baru Jaminan Sosial Indonesia"

 

Jakarta, 12 Agustus 2015, BPJS Ketenagakerjaan yang telah resmi beroperasi penuh mulai 1 Juli 2015 menyelenggarakan 4 (empat) program, di antaranya Jaminan Hari Tua, Jaminan Kecelakaan Kerja, Jaminan Kematian dan Jaminan Pensiun yang melengkapi jaminan sosial yang sebelumnya sudah diselenggarakan. Operasional penuh BPJS Ketenagakerjaan ini juga diikuti dengan beberapa perubahan dari sisi regulasi serta benefit masing-masing jaminan di antaranya:

1. Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK), benefit yang didapatkan oleh peserta bertambah dengan dihilangkannya  plafon biaya pengobatan dan perawatan yang sebelumnya sebesar Rp. 20 juta, Per 1 juli 2015 tindakan medis yang dilakukan karena terjadinya kecelakaan kerja diitanggung oleh BPJS Ketenagakerjaan sampai pekerja dinyatakan sembuh. Selain biaya pengobatan dan perawatan sampai sembuh, benefit lainnya yang mengalami peningkatan antara lain biaya angkutan darat, laut dan udara, biaya pemakaman serta pemberian beasiswa pendidikan bagi peserta yang meninggal dunia atau cacat total tetap karena kecelakaan kerja. Selain itu, jika terjadi cacat sebagian permanen, pekerja juga akan mendapatkan pelatihan khusus agar tetap bisa kembali bekerja melalui penyempurnaan manfaat Jaminan Kecelakaan Kerja-Return To Work (JKK-RTW), di samping santunan cacat yang diterima. Dengan demikian pekerja tetap bisa mendapatkan penghasilan dengan keahlian lain hasil dari pelatihan yang dijalani. Dengan Iuran sebesar 0,24 % - 1,74 % dari upah sebulan, pekerja sudah bisa terlindungi dari resiko kecelakaan kerja. Perlindungan JKK dimulai sejak berangkat kerja, saat dilingkungan kerja sampai kembali ke rumah.

2. Jaminan Kematian (JK) memberikan benefit kepada ahli waris pekerja yang mengalami musibah meninggal dunia, yang bukan karena kecelakaan kerja. Peningkatan manfaat terdapat pada santunan sekaligus, santunan berkala dan biaya pemakaman dengan total santunan sebesar Rp. 24 Juta dan pemberian beasiswa bagi anak pekerja yang ditinggalkan sebesar Rp. 12 Juta bagi peserta yang sudah memasuki masa iur 5 tahun. Pemberian beasiswa ini merupakan penambahan manfaat pada Jaminan Kematian yang sebelumnya tidak ada. Hal ini diberikan kepada peserta agar apabila terjadi resiko meninggal dunia, keluarga yang ditinggalkan, terutama anak dari pekerja, mendapatkan bantuan biaya yang diperuntukkan untuk pendidikan. Dengan iuran sebesar 0,3% dari upah yang dilaporkan, peserta sudah terlindungi pada program Jaminan Kematian.

3. Program baru diselenggarakan oleh BPJS Ketenagakerjaan adalah Jaminan Pensiun yang merupakan program jaminan sosial dengan skema manfaat pasti yang diberikan kepada pekerja setiap bulannya, saat memasuki masa pensiun 56 tahun atau mengalami cacat total permanen dan atau meninggal dunia, yang diberikan kepada pekerja atau ahli waris yang sah. Jaminan Pensiun dipersiapkan bagi pekerja untuk tetap mendapatkan penghasilan bulanan disaat memasuki usia yang tidak lagi produktif. Dengan iuran yang ditetapkan sebesar 3% (1% pekerja dan 2 % pengusaha) dan dengan masa iur 15 tahun, peserta dapat menikmati dana pensiun di masa pensiunnya nanti. Selain peserta, manfaat pensiun juga dapat diterima oleh ahli waris janda/duda dari peserta yang meninggal dengan benefit mencapai 50% dari formulasi manfaat pensiun, sampai ahli waris meninggal dunia atau menikah lagi. Selain itu, ahli waris anak dari peserta yang meninggal juga mendapatkan benefit pensiun mencapai 50% dari formulasi manfaat pensiun, sampai berusia 23 tahun, bekerja atau menikah. Untuk peserta lajang yang meninggal dunia, manfaat pensiun diterima oleh orangtua sampai batas waktu tertentu dengan benefit mencapai 20 % dari formulasi manfaat pensiun.

4. Jaminan Hari Tua (JHT), merupakan jaminan yang memberikan perlindungan kepada para pekerja terhadap resiko yang terjadi di hari tua, dimana produktivitas pekerja sudah menurun. JHT merupakan sistem tabungan hari tua yang besarnya merupakan akumulasi iuran ditambah hasil pengembangannya. JHT ini dapat dicairkan saat pekerja mencapai usia 56 tahun atau meninggal dunia atau cacat total tetap. Manfaat JHT juga dapat diambil saat kepesertaan mencapai 10 tahun dengan besaran 10% untuk persiapan hari tua atau 30% untuk pembiayaan perumahan. Pencairan manfaat pada kepersertaan 10 taun tersebut hanya dapat dipilih salah satu, baik untuk persiapan hari tua ataupun pembiayaan perumahan.

Dalam kegiatan seminar yang diselenggarakan oleh Universitas Paramadina terkait jaminan sosial dengan tema Menyelaraskan Dana Jaminan Pensiun, Dana Pesangon dengan Program Wajib BPJS Ketenagakerjaan, Agus Supriyadi, Direktur Perencanaan Strategis dan Teknologi Informasi BPJS Ketenagakerjaan menjadi narasumber dalam acara tersebut. Selain Direksi BPJS Ketenagakerjaan, hadir pula Direktur Litigasi Peraturan Perundang-undangan dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham), Nasrudin, sebagai narasumber. Sementara Dinna Wisnu, Ph.D dan Rektor Universitas Paramadina, Prof. Firmanzah, Ph.D menjadi tuan rumah dalam kegiatan seminar tersebut. Kegiatan yang dilaksanakan merupakan salah satu wujud dukungan terhadap regulasi yang ditetapkan pemerintah dengan memberikan informasi kepada para peserta seminar yang terdiri dari pengusaha, DPLK, Serikat Pekerja, Peneliti dari berbagai Universitas, LSM dan Lembaga Internasional serta rekan-rekan jurnalis.

Dinna Wisnu, Ph.D sebagai pengamat publik Universitas Paramadina mengatakan bahwa Sangat disayangkan jika publik dibiarkan bertanya-tanya tentang arah kebijakan perlindungan sosial dan ketenagakerjaan dari Presiden Joko Widodo. Sesungguhnya wajar bila muncul reaksi-reaksi negatif terhadap program wajib BPJS Ketenagakerjaan, apalagi karena prinsip manfaat dan pengelolaannya berbeda dari program Jamsostek dan aturan untuk implementasi program BPJS Ketenagakerjaan muncul sangat terlambat. Justru publik perlu didorong lebih terbiasa dengan prinsip-prinsip jaminan sosial. Sejalan dengan itu, Nasrudin sebagai narasumber dari Kemenkumham menyampaikan bahwa pada dasarnya ada pentahapan kepatuhan, jadi tidak perlu khawatir. Ada mekanisme yang perlu dipahami oleh pemberi kerja dan pekerja.

Direktur Perencanaan Strategis dan TI, Agus Supriyadi, menjelaskan bahwa banyak cara untuk memenuhi kebutuhan akan informasi terkait BPJS Ketenagakerjaan, baik melalui kantor cabang, media sosial, aplikasi mobile serta beberapa kanal informasi lainnya yang dimiliki BPJS Ketenagakerjaan. Hal ini dilakukan agar masyarakat dapat dengan mudah mendapatkan akses terhadap informasi yang dibutuhkan terkait BPJS Ketenagakerjaan.

Operasional Penuh BPJS Ketenagakerjaan merupakan momentum sejarah menuju Era Baru Jaminan Sosial Indonesia. Melalui penambahan program, penyempurnaan manfaat, peningkatan pelayanan dan pemenuhan semua infrastruktur, BPJS Ketenagakerjaan siap Menjadi Jembatan Menuju Kesejahteraan Pekerja.

 

Deklarasi Alumni Ilmu Manajemen dan Buka Puasa Bersama

E-mail Cetak PDF

 

Selamat kepada Ikatan Alumni Ilmu Manajemen Paramadina atau yang di singkat " ALIM Paramadina " atas deklarasi pengukuhannya yang bertempat di kampus S2 The Energy lantai 22 pada hari Rabu 8 Juli 2015 pada pkl 18.30 WIB.

ALIM Paramadina juga telah mengukuhkan struktur organisasinya yang beranggotakan dari beragam angkatan, dimana ketuanya adalah Rangga dari angkatan 2002. Dalam foto dia sedang mempresentasikan awal pembentukan dan gambaran visi misi untuk ikatan alumni tersebut kedepannya.

 

Tidak hanya di hadiri oleh Alumni S1 saja, tetapi alumni S2 juga turut hadir menjadi saksi secara tidak langsung dalam acara ini sembari berbuka puasa bersama, dan dari Fakultas sendiri ada dosen S1 Manajemen Bapak Iyus Wiady, ibu Prima Naomi, ibu Anita Maharani dan Ibu Iin Mayasari yang juga sebagai Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Sementara dari S2 ada bapak Handi Risza selaku ketua Prodi Magister Manajemen kemudian Ibu Ayu Nindyati beserta jajaran Humas selaku Deputi Rektor.

Terakhir Diperbaharui ( Kamis, 09 Juli 2015 16:47 )
 

Mendefinisikan kembali Pendidikan Abad 21

E-mail Cetak PDF

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan (tengah atas) sedang berfoto, turut hadir Desi Anwar dan Andy F. Noya B (bawah duduk)

 


u.school: Membangun Kapasitas Kepemimpinan Kolektif untuk Transformasi Diri, Bisnis, dan Masyarakat
Kegagalan kelembagaan secara besar-besaran, diiringi perubahan yang mengarah kepada pengrusakan di awal abad 21, mengakibatkan pemimpin dari semua sektor dan sistem dihadapkan pada tantangan yang semakin besar dan kompleks. Meskipun tantangan ini berpeluang menghasilkan benih-benih pembaharuan mendalam namun di sisi lain juga dapat membawa umat manusia ke dalam penderitaan dan kehancuran. Kemana arah kita, sangatlah bergantung kepada kapasitas pemimpin di seluruh tingkatan untuk dapat memahami tantangan tersebut dan menggagasnya kembali menjadi peluang untuk menciptakan inovasi sistemik yang meluas. Berbagai gerakan dan inisiatif untuk melakukan transformasi mendalam di bidang sosial, ekonomi, politik, dan pendidikan telah bermunculan, namun masih diperlukan sebuah platform pembelajaran global yang menghubungkan para pembawa perubahan dan pemberdaya untuk dapat saling berbagi dan belajar bersama-sama.
Berangkat dari kesadaran akan kebutuhan ini, maka para peneliti dunia: Otto Scharmer dan Peter Senge dari MIT, Robert Kegan dan Lisa Lahey dari Harvard, serta David Cooperider dari Case Western, dan  Henry Mintzberg dari McGill, dan masih banyak peneliti lainnya mengembangkan sebuah platform yang disebut sebagai u.school, yaitu sebuah jejaring global yang disertai pusat /hubs regional (disebut sebagai u.lab). Setiap hub berupaya untuk mengintegrasikan tiga jenis pengetahuan: pengetahuan teknis (know-what), pengetahuan praktis (know-how) dan pengetahuan transformasi diri (know-who) yang akhirnya dapat meningkatkan pemahaman akan dirinya dan masa depan yang hendak dimunculkan. 
Pada bulan Januari hingga Februari 2013 telah dilangsungkan U.lab pertama di MIT, berbentuk pengembangan kapasitas secara masal berbasis Internet (online), dan menggabungkan sebuah program pendidikan dengan gerakan global. Kegiatan ini berhasil menjaring 28.000 peserta dari 190 negara dan menciptakan 350 hubs yang saling terhubung lintas sistem sosial dan budaya.  Demikian pula melalui U.Lab tercipta 700-1000 coaching circles yang memungkinkan berbagai pengusung inisiatif-inisiatif perubahan untuk saling mendukung satu sama lain. Sebagian besar dari peserta menyatakan bahwa pembelajaran dalam U.Lab telah membuka mata mereka (52%) atau merubah hidupnya (36%), dan dari U.Lab telah dihasilkan ratusan bahkan ribuan inisiatif purwarupa (prototype) yang saat ini masih terus dikembangkan oleh berbagai kelompok lokal dan hubs.
Dalam kesempatan memberikan kuliah umum di Universitas Paramadina, Otto Scharmer menuturkan bahwa jejaring global u.school sedang dalam proses diciptakan bersama, ‘co-created’, oleh rekanan dari masyarakat madani, pemerintah, dan bisnis, serta oleh para pemimpin dan pembuat perubahan di tingkat global. Bersama-sama, para rekanan tersebut akan mengeksplorasi, menguji, dan mengkonseptualisasikan bagaimana sistem ekonomi, demokrasi, dan pendidikan akan menjawab tiga  kesenjangan yang semakin terlihat jelas saat ini: (1) kesenjangan lingkungan, di mana pertumbuhan era industri saat ini menuntut 1,5 bagian dari bumi untuk mendukung tingkat ekstraksi sumberdaya alam yang berdampak pada keseluruhan ekosistem kita; (2) kesenjangan sosial, di mana terlihat meningkatnya polarisasi sosial, fragmentasi, dan kesenjangan antara miskin dan kaya; dan (3) kesenjangan spiritual, yaitu meningkatnya stres, kecemasan, gangguan mental, ketidakbahagiaan, bunuh diri dan gejala-gejala lainnya yang menandakan semakin hilangnya keterhubungan dengan jatidiri kita sebagai manusia seutuhnya.
Petikan dari Dr Anies Baswedan…………

Indonesia sudah merupakan bagian dari gerakan yang saat ini sedang didorong secara global. IDEAS Indonesia merupakan salah satu contoh nyata yang masih dilaksanakan di Indonesia hingga saat ini yang digerakkan oleh United In Diversity (UID). UID adalah lembaga swadaya masyarakat yang bersifat nirlaba yang dibentuk dari kolaborasi Surat kabar Sinar Harapan, MIT Sloan School of Management dan Universitas Indonesia. IDEAS Indonesia sendiri merupakan inisiatif dari UID bersama dengan Presencing Institute (PI) dan Society for Organization Learning (SoL) untuk mendorong terciptanya inovasi dan pembaharuan sistem sosial yang mendalam dan luas. Program ini telah dilakukan sejak tahun 2008 dan hingga saat ini telah memfasilitasi 120 pemimpin dari pemerintah, bisnis, dan masyarakat madani untuk bersama-sama melakukan inovasi sosial yang berdampak sistemik yang luas, di antaranya: penerapan anti-korupsi sehingga meningkatkan pelayanan pemerintah bojonegoro kepada masyarakatnya, dan   transformasi kelembagaan yang dilalui oleh Bank Negara Indonesia (BNI) melalui program pembelajaran bagi 1.100 pemimpin di tingkat atas dan menengah.

Upaya untuk mendorong inovasi sistem sosial ini terus bergulir, dan pada tanggal 1 Juli 2015 bersamaan dengan dilaksanakannya kuliah umum oleh Dr. Otto Scharmer, UID dan Paramadina berkomitmen untuk bersama-sama untuk mempersiapkan dan mempertemukan para pemimpin dari pemerintah, swasta dan masyarakat madani untuk dapat bersama-sama belajar dan melakukan tindakan nyata untuk menghadapi tantangan jaman yang semakin berubah-ubah dan dinamis, penuh dengan ketidakpastian, semakin kompleks, dan ambigu. Komitmen ini ditandai dengan penandatanganan MoU oleh kedua belah pihak yang akan ditindaklanjuti dengan pelaksanaan program pembelajaran kepemimpinan – Learning and Leadership development Program (L2DP) – yang bertujuan untuk melengkapi pemimpin Indonesia dengan kualitas kepemimpinan transformasional yang diperlukan untuk menggeser paradigma ekonomi saat ini dari Model yang Ego-sentris (di mana keuntungan diolah secara pribadi sementara kerugian disosialisasikan kepada semua) menjadi sebuah Model yang Eco-sentris (yaitu memicu gerakan yang signifikan sehingga hubungan dapat berubah dari transaksional menjadi) yang secara kolektif menjaga keberlanjutan dari ibu pertiwi dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Prof. Firmanzah, Rektor Universitas Paramadina, menekankan bahwa melalui kerja sama ini Universitas Paramadina dan UID bertujuan untuk bersama-sama membangun kemitraan strategis guna meningkatkan kualitas kepemimpinan multisektoral di Indonesia yang mengedepankan semangat pengabdian, integritas, dan kejujuran, dengan tetap menjaga keseimbangan keberagaman serta keutuhan sosial, budaya, dan lingkungan bagi Indonesia yang lebih baik.

Melalui program L2DP ini Universitas Paramadina dan United in Diversity mengajak para pemimpin masa depan Indonesia untuk mengikuti sebuah perjalanan pembelajaran yang akan membawa para pesertanya melihat dunia di sekitar dengan kacamata yang berbeda, dan membantu untuk dapat mentransformasikan jatidiri, Organisasi, dan Masyarakat agar secara kolektif dapat melakukan perubahan yang mendalam bagi keberlanjutan dan kualitas hidup manusia. Perjalanan ini memberi kesempatan bagi para peserta untuk mengalami langsung proses inti yang membentuk kerangka u.school, yang dirancang untuk diterapkan para praktisi teknologi sosial berbasis kesadaran dalam keseharian pekerjaan mereka di bidang transformasi dan perubahan.

Informasi lebih jauh mengenai u.school dapat didownload di www.ottoscharmer.com/sites/default/files/2011_uschool.pdf

Terakhir Diperbaharui ( Senin, 06 Juli 2015 14:38 )
 

Open House PGSC 12 Juni 2015

E-mail Cetak PDF

Komunikasi merupakan hal vital yang mempengaruhi semua lini kehidupan. Sayangnya kenyataan itu belum disadari oleh banyak orang. Senior Manager Edelman Indonesia mengata-kan, miskomunikasi merupakan salah satu hambatan pemerataan kesejahteraan. Kampanye dan sosialisasi yang kurang efektif membuat masyarakat miskin tidak mengetahui hak mereka yang harus diberikan pemerintah.


Pernyataan Arie diamini oleh Senior Consultant Asia PR sekaligus pengajar di Paramadina Graduate School of Communication Silih Agung Wasesa. Silih menambahkan, minimnya sumberdaya yang memahami komunikasi secara keilmuan menjadi salah satu penyebab sengkarut di negeri ini. “Banyak posisi-posisi yang membutuhkan kemampuan komunikasi tingkat tinggi, malah diisi oleh orang-orang dari disiplin ilmu yang lain yang notabene tidak paham kekuatan komunikasi,” kata Silih.


Menangkap kebutuhan tersebut, Paramadina Graduate School membuka kelas magister untuk mereka yang ingin mendalami dan mempelajari ilmu komunikasi. Ada dua jurusan yang tersedia, Corporate Communication dan Political Communication. Paramadina Graduate School of Communication juga menyediakan beasiswa bagi para jurnalis, penggiat NGO dan guru.

Terakhir Diperbaharui ( Senin, 22 Juni 2015 15:45 )
 
JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL

Ruang Sevila Toledo

Ruang Kelas

Ruang Diskusi

Auditorium

library 3

library 2

library

JEvents Calendar

September 2017
S M T W T F S
27 28 29 30 31 1 2
3 4 5 6 7 8 9
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30

Permintaan Brosur

Permintaan Brosur S2

Nama Lengkap *
Email *
No. HP *
Alamat Rumah *




Cici              Lina
Join & Follow:



Indonesian (ID)