Paramadina Graduate Schools

News



[Seminar & Talkshow] 8 Cara Mudah Sikapi Pajak Untuk Tetap Melejitkan Bisnis

E-mail Cetak PDF

Rhesa Yogaswara : Tengah (ketua LP3-HIPMI JAYA)

Kondisi kita saat ini yang tertinggal jauh dengan negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura karena tax policy Indonesia dipandang masih belum efektif. Namun, tidak hanya dari sisi regulasi, persepsi yang salah dan rendahnya kesadaran membayar pajak di kalangan pengusaha pun, menjadi kendala saat ini.

Dengan memanfaatkan momentum meningkatnya pertumbuhan kelas menengah dan segmen anak muda yang produktif yang diprediksi akan menggerakkan ekonomi Indonesia. Apalagi dengan tumbuhnya sektor UKM dan meningkatnya investasi PMDN dan PMA sehingga menjadikan pajak sangat penting dalam membangun negeri ini dan juga meningkatkan daya saing usaha di pasar global.

Untuk itu diperlukan sebuah program sosialisasi tentang pajak dengan penyampaian yang ringan sederhana, ringan bagi para pengusaha muda yang dimulai dari skala usaha kecil. LP3 HIPMI JAYA berkolaborasi dengan HIPMI Tax Center menyelenggarakan Seminar dan talkshow dengan program berjudul “8 Cara Pahami Pajak secara Mudah “, dengan thema “Dengan Pajak, kita membangun infrastruktur usaha ke depan”.

 

Terakhir Diperbaharui ( Selasa, 23 Juni 2015 14:44 )
 

Diskusi Publik “Evaluasi 100 Hari Pemerintahan Jokowi-JK”

E-mail Cetak PDF

 

 

Jokowi Masih Mencari Pola Komunikasi Politik

Jakarta, 26/1 – Presiden Joko Widodo dinilai masih mencari pola untuk komunikasi politik dalam masa 100 hari pemerintahannya bersama Jusuf Kalla. Gaya komunikasi politik Jokowi berbeda ketika masih menjabat sebagai wali kota, gubernur dan presiden.

“Saat masih menjadi wali kota dan gubernur, Jokowi terlihat aktif, action. Itu membuat kita tahu dia bekerja, ‘genuine’. Ketika debat, pakai jas, kita merasa ‘he is not at home’,” kata pengamat komunikasi politik Universitas Paramadina Putut Widjanarko saat menjadi pembicara dalam Diskusi Publik “Evaluasi 100 Hari Pemerintahan Jokowi-JK” yang diadakan Paramadina Graduate School  of Communication di Kampus Paramadina, Jalan Sudirman, Jakarta, Senin (26/1).

Putut menilai Jokowi bukan orang yang bisa melakukan komunikasi verbal. Karena itu, Jokowi masih harus belajar. Saat mengikuti debat calon presiden, dia masih bisa dilatih oleh timnya. Namun, saat menjadi presiden, sudah tidak bisa lagi dilatih untuk, misalnya, berbicara tentang masalah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Kepolisian RI.

Juru bicara Koalisi Merah Putih (KMP) Nurul Arifin mengatakan Jokowi belum mampu menjadi panglima pemerintahan. Hal itulah yang menjadi penyebab kisruh di pemerintahannya dalam waktu tiga bulan pertama.

“Banyak intervensi, bukan hanya dari partai Pak Jokowi sendiri, tetapi dari partai-partai yang tergabung dalam Koalisi Indonesia Hebat (KIH). Dengan gaya dan kemampuannya, kita berharap Pak Jokowi bisa menjadi panglima pemerintahan,” tuturnya.

Menurut Nurul, Jokowi terlihat kesulitan bekerja sama dengan koalisi pendukungnya. Justru, ada kabar bahwa Jokowi lebih mudah bekerja sama dengan KMP.

Politisi PDI Perjuangan Effendi Simbolon menilai belum siap menjadi presiden. Banyak hal yang dia tangani sendiri, padahal seharusnya cukup dikerjakan oleh menteri maupun staf-stafnya.

“Ada masalah, belum porsinya menangani, tetapi sudah mengundang sana-sini. Beliau mendegradasi wibawanya sendiri. Seharusnya, biarkan saja misalnya mekopolkam yang menangani. Selain itu, orang-orang di Jokowi banyak yang tidak kompeten dan membawa pengaruh buruk,” ujarnya.

Namun, Effendi menegaskan publik harus memberi kesempatan kepada Jokowi untuk memperbaiki kekurangannya. Kekurangan yang terlihat selama 100 hari pertama masih bisa diperbaiki.

Sementara itu, mantan Wakil Ketua KPK Bibit Samad Riyanto mengatakan salah satu permasalahan bangsa ini adalah degradasi moral sehingga korupsi masih sering terjadi.

“Kalau korupsi disebut sudah tidak ada, mengapa masih ada koruptor yang ditangkap KPK? Selain itu, mafia hukum juga masih terjadi meskipun tidak seperti yang terjadi di Italia,” tuturnya.

Diskusi publik tersebut dipandu oleh pengamat komunikasi politik Universitas Paramadina Eka Wenats. Di akhir diskusi, Eka mengatakan bahwa diskusi tersebut bukan untuk menghakimi atau menjelek-jelekan pemerintahan Jokowi-JK.

“Selama masih ada kesempatan, masih bisa diperbaiki,” tukasnya. (*)

 

 

 

 

 

SEMINAR : 21 Million Good Jobs and Double Digit Growth

E-mail Cetak PDF

 

Friday, October 31, 2014

pkl 09.00 - 11.00 WIB

 

Paramadina Graduate School in partnership with Medco

Energy Tower 22 fl, SCBD, Jakarta

 

RSVP: SMs : nama_Gustav" ke 0815 918 1188, PIN BB 2bb5f844

atau email ke : Alamat e-mail ini diproteksi dari spabot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya

 

Terakhir Diperbaharui ( Jumat, 24 Oktober 2014 16:05 )
 

Seminar : Connecting The Dots Between Islamic Finance and Islamic Lifestyle Industries

E-mail Cetak PDF

 

 

SHORT SEMINAR IN ISLAMIC BUSINESS & FINANCE – PGS IBF

Keuangan syariah dan industri halal terutama terkait makanan dan gaya hidup (lifestyle) halal (fashion, pariwisata, farmasi, kosmetik, dan media/rekreasi), tengah menjadi fenomena global karena pesatnya pertumbuhan kedua industri tersebut. Sayangnya, konektivitas atau jalinan keuangan syariah dan industri lifestyle halal justru belum berpadu dengan mulus.

Riset dari DinarStandard yang dikeluarkan akhir tahun lalu menunjukan bahwa potensi pasar sektor makanan dan gaya hidup halal global menembus USD1,62 triliun pada tahun 2012 dan diperkirakan akan meningkat menjadi USD2,47 pada tahun 2018.

Khusus di wilayah Asia Timur, pasar konsumen gaya hidup Islami domestik terbesar adalah Indonesia, yang diperkirakan bernilai sebesar USD235 miliar (2012).

 

Terima kasih kepada pembicara tamu seminar Mr. Rafi-Uddin Shikoh (CEO/Mangeing Director of DinarStandard)

Tentang DinarStandard:

Berbasis di New York, DinarStandard adalah firma konsultasi strategi dan riset yang memfokuskan diri di pasar-pasar negara Islam yang sedang berkembang (emerging Muslim markets). Beberapa entitas yang telah menjadi klien atau pernah bekerja sama dengan DinarStandard antara lain adalah ThomsonReuters, Marriott, Dubai Islamic Bank, Madinah Institute dan Kementerian Pariwisata Republik Indonesia.

 

 


Terakhir Diperbaharui ( Rabu, 11 Juni 2014 15:30 )
 

Pemimpin Mendatang Harus Mampu Jawab Tantangan Global

E-mail Cetak PDF

 

AKARTA - Pemilihan Presiden (Pilpres) Indonesia akan berlangsung pada 9 Juli 2014. Para calon pemimpin bangsa diharapkan mampu memahami dan menghadapi tantangan lokal maupun global untuk lima tahun ke depan.

"Aspek-aspek penting terkait persoalan dan tantangan besar yang akan dihadapi bangsa Indonesia selama lima tahun mendatang saat ini relatif terabaikan," kata Direktur Eksekutif IndoStrategi, Andar Nubowo, di Jakarta, Rabu (7/5).

Pilpres merupakan momentum sangat penting menentukan pemimpin nasional yang mampu menjawab tantangan lokal dan global yang semakin kompleks. Jadi, amat disayangkan jika pembentukan koalisi dalam pembahasannya hanya menyusun strategi untuk sekadar memenangi pilpres.

Andar menyatakan, pada 2015, pemimpin terpilih menghadapi tantangan pertamanya dengan persaingan pasar bebas ASEAN (MEA). Menurutnya, Indonesia berpeluang menjadi pemeran utama dalam panggung besar ekonomi antarnegara ASEAN itu. “Dengan catatan, pemerintah berkesadaran untuk memperbaiki sarana dan prasarana yang ada," ujarnya.

Ia melanjutkan, dalam lima tahun ke depan, Indonesia akan dihadapkan kepada masalah sosial dan ekonomi yang semakin pelik. Jadi, pemimpin yang akan datang diharapkan mampu menyelesaikan berbagai permasalahan sosial dan ekonomi tersebut. "Setiap persoalan bangsa hanya bisa diselesaikan dengan kepemimpinan Indonesia ke depan yang lebih kuat, berorientasi kemajuan ekonomi, dan tidak terjebak konflik politik," tuturnya.

Direktur Freedom Institute Luthfi Assyaukanie menjelaskan, kebijakan luar negeri merupakan cermin ekspansi politik lokal. Untuk mengetahui kebijakan luar negeri suatu negara, dapat dilihat dari arah politik yang terjadi di negara itu. "Dinamika politik internal yang terjadi di negara kita sedikit demi sedikit menggambarkan hal tersebut," kata Luthfi.

Ia menguraikan, ke depan yang menjadi permasalahan adalah cara mengelola sistem politik tingkat lokal untuk menjadi cerimin di tingkat internasional. "Ini tentang bagaimana dunia internasional memandang pencapaian politik kita, lebih tepatnya perkembangan politik menjelang pilpres," tutur Luthfi.

Peran Penting
Direktur Graduate School of Diplomacy, Universitas Paramadina, Dinna Wisnu menjelaskan, pemimpin yang baru harus melihat tantangan yang dihadapi Indonesia dalam lima tahun ke depan. Ini karena Indonesia merupakan salah satu negara yang dipandang berposisi penting di belahan dunia lain.

“Indonesia berperan dalam geostrategi, politik internasional, dan demokrasi. Bahasa sederhananya, Indonesia, meskipun tidak melakukan apa-apa, sudah didekati negara lain sebab secara historis sangat besar perannya dalam politik internasional," ucap Dina.

Menurutnya, untuk menghadapi tantangan global 2015, bangsa Indonesia harus memperhatikan kesiapan sumber daya manusia (SDM). Hal ini berhubungan dengan kualitas SDM yang dimiliki Indonesia yang masih sangat minim. "Dilihat dari alokasi dana pendidikan 20 persen dari APBN, yang sampai ke bawah tidak lebih dari 14 persen," tuturnya.

Dina melanjutkan, saat ini yang harus menjadi perhatian pemimpin mendatang adalah upaya mengatasi kesenjangan ekonomi yang semakin memburuk. Ini karena ketimpangan antara golongan atas dan bawah sangat jauh. "Hal tersebut menjadi titik penting yang harus diperhatikan pemimpin mendatang," ujarnya.

Ia melanjutkan, pemimpin Indonesia ke depannya harus berpengalaman berbicara dengan orang-orang kecil. Pasalnya, mayoritas masyarakat Indonesia masih terdiri atasa orang kecil dan lemah. "Kalau pemimpin tidak pernah bermacet-macet ria dan mengalami yang dihadapi orang-orang di bawah, bagaimana bisa paham masalah yang dihadapi orang-orang bawah," ucapnya.

Tak hanya itu, kata Dina, kebijakan ekonomi fiskal harus diperhatikan. Upaya menghadapi tantangan dunia luar ke depannya harus mampu memperbesar cadangan devisa negara. "Devisa negara harus disimpan dengan tepat dan digunakan dengan sasaran yang tepat pula," ujar Dina.

 

source : http://sinarharapan.co/news/read/140508076/Pemimpin-Mendatang-Harus-Mampu-Jawab-Tantangan-Global-span-span-

Terakhir Diperbaharui ( Senin, 12 Mei 2014 18:14 )
 
JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL

Ruang Sevila Toledo

Ruang Kelas

Ruang Diskusi

Auditorium

library 3

library 2

library

JEvents Calendar

September 2017
S M T W T F S
27 28 29 30 31 1 2
3 4 5 6 7 8 9
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30

Permintaan Brosur

Permintaan Brosur S2

Nama Lengkap *
Email *
No. HP *
Alamat Rumah *




Cici              Lina
Join & Follow:



Indonesian (ID)