Paramadina Graduate Schools

News



Indonesia Elections 2014: Islamic parties improve on vote share

E-mail Cetak PDF

Dinna Wisnu about Election

 

Salim Osman
The Straits Times
Saturday, Apr 12, 2014

JAKARTA - Indonesia's Islamic parties have put in an unexpectedly sturdy performance, garnering a combined vote share of close to a third of the ballots cast.

The five Islamic parties together pulled in 31.2 per cent of the votes, according to a quick tally by pollster Saiful Mujani Research and Consulting.

This is up from their share of 25.89 per cent in 2009, but not as high as the 33.8 per cent they notched in 1999 in Indonesia's first election after the fall of president Suharto.

Still it was a commendable showing given early predictions of a dire performance in yesterday's election, partly because of graft scandals involving some of the leading members of the Prosperous Justice Party (PKS).

The positive performance of the Islamic parties suggests that their religious appeal still has broad support despite the surge of nationalist parties like Gerindra and the Indonesian Democratic Party-Struggle in this election. It also boosts their appeal as coalition partners.

Three of the five raised their vote share from 2009. Leading the pack is the National Awakening Party (PKB), which won 8.9 per cent of the vote, up from 4.9 per cent in 2009, according to tallies by Saiful Mujani and Indikator Politik Indonesia.

Dr Dinna Wisnu of the Paramadina University said the PKB's comeback was not unexpected given strong support from Mr Said Agil Siraj, chairman of Nadhlatul Ulama (NU), Indonesia's largest Muslim movement with more than 40 million members.

"It is a boon for the party, which draws almost all of its support from the NU whose bases are in East and Central Java," she told The Straits Times.

PKB was founded in 1998 by Mr Abdurrahman Wahid, the then NU chairman who went on to become Indonesia's fourth president. For years, PKB served as a political vehicle for NU and its non-Muslim supporters.

But PKB did woefully in 2009, partly because of feuds within its ranks. Those have since been resolved; in this election it got an additional boost from the entry of airline tycoon Rusdi Kirana, who as its deputy chairman helped strengthen its campaign machinery.

With its strong performance, PKB is set to take over as the largest Islamic party in parliament, displacing PKS, which saw its share of the vote drop from 7.9 per cent to 6.9 per cent, according to the quick counts.

Two other two Islamic parties - the United Development Party (PPP) and the National Mandate Party (PAN) - improved on their performances. The Indikator Politik Indonesia's quick count found that PAN won 7.7 per cent of the vote, up from 6 per cent in 2009, while the PPP got 6.3 per cent, up from 5.3 per cent previously.

The Crescent Star Party of former law minister Yusril Ihza Mahendra lagged behind, scoring only 1.4 per cent of the vote. The party is not expected to get into parliament, as its score is below the 3.5 per cent threshold for national representation.

 

source : http://news.asiaone.com/news/asia/indonesia-elections-2014-islamic-parties-improve-vote-share

 

Discussion of Consortium of Indonesia’s Foreign Policies

E-mail Cetak PDF

Organized by Paramadina Graduate School of Diplomacy (PGSD) Featuring Mr. Liang Jen Chang,
Taipei Economic and Trade Office (TETO) Representative for Indonesia

Topic: “A glimpse of Taiwan's political and economic development & Cross-strait relations”

2 May 2014, 16:30 – 18:30

Venue: Paramadina Graduate School Campus in partnership with MEDCO Group
The Energy building, 22nd floor
SCBD Lot 11 A, Jl. Jendral Sudirman Kav 52-53
Jakarta 12190

In the context of Indonesia and regional politics, as time goes by, it becomes clearer that a country as important and strategic in Asia-Pacific as Indonesia cannot afford neglecting what’s going on at political and economic levels in Taiwan. As an economic entity, Taiwan invests substantially to Indonesia and continues diligently to promote bilateral relations between Taiwan and Indonesia. For Indonesia, the political and economic standing as well as the experience of Taiwan viz-a-viz China, the United States and the Northeast Asian countries is valuable information to develop Indonesia’s strategic positioning in the region and in the world.
Aware of that need, as an education institution committed as the Home for Exploration, Innovation and Networking, Paramadina Graduate School of Diplomacy in cooperation with TETO will co-host the talk by Mr. Liang-Jen Chang, the new Representative of TETO for Indonesia. Mr. Liang-Jen Chang will share his thoughts and experience in navigating the turbulent cross-strait relations in a dynamic Asia-Pacific, including in the case of South-China Sea conflict, the Taiwan’s students opposition to service trade pact with China, and the Trans Pacific Partnership initiative.

 

Disukusi Hari Perempuan Sedunia

E-mail Cetak PDF

 

Paramadina Graduate School mengadakan Seminar dalam memperingati Hari Perempuan Sedunia pada Rabu, 12 Maret 2014 dengan tema “Upaya Penghapusan Kekerasan Terhadap Perempuan”. Acara yang diadakan oleh Mahasiswa Paramadina Graduate School Angkatan 2013 ini  menghadirkan pembicara :

1. Okky Asokawati (Komisi IX DPR RI, Fraksi PPP yang berbicara tentang Upaya penghapusan Kekerasan Terhadap Perempuan dan mendukung agenda kemajuan hak asasi Perempuan, dari perspektif anggota DPR RI

2. Sahat Farida Berlian (Caleg PDI Perjuangan) yang berbicara tentang Upaya penghapusan Kekersan terhadap perempuan, sebuah cita-cita mulia, tantangan dan peluang

3. Sereida Tambunan (Caleg dan Aktivis Perempuan) yang berbicara mengenai upaya penghapusa Kekerasan terhadap Perempuan, sebuah agenda dan rencana aksi

4.  Ruth India Rahayu (Aktivis Perempuan) yang berbicara tentang Agenda pemajuan hak asasi perempuan tingkat nasional untuk lima tahun ke depan; sebuah bahan rekomendasi bagi caleg

5. Roy Thaniago (Remotivi) yang berbicara tentang Kekerasan terhadap Perempuan dan Agenda pemajuan hak asasi perempuan; sebuah catatan media untuk anggota dewan dan caleg

6. Ulfah Mawardi, M.Pd

7. Moderator : Yulianti

 

Acara ini juga didukung oleh : Komnas Perempuan, Majalah Paras, dan Tempo

 

Pemilu Presiden: Karnaval Simbol Demokrasi?

E-mail Cetak PDF

Aula Nurcholis Madjid Universitas Paramadina, Gatot Subroto, Jakarta

 

 

Jakarta, 16 Maret 2014. Paramadina Graduate School of Communications melakukan riset terhadap celoteh masyarakat tentang para kandidat capres melalui percakapan di twitter dari tanggal 1 januari hingga 15 Februari 2014.  Sekitar 2,32 juta celoteh tertangkap dalam penelitian tentang pembicaraan yang dikaitkan dengan para kandidat.

Data yang diolah dari mesin monitoring percakapan di media Awesometrics tersebut menunjukan percakapan mengenai pencapresan dan percaturan politikdemi mencapai RI-1 sebesar 62,5%, kapabilitas dan kinerja para capres sebesar 12,5%, berkaitan denganlembaga negara seperti DPR, KPK, dan MK sebesar 11,3%, sedangkan pewacanaan isu khusus seperti  wajib militer, investasi, kemandirian pangan, blue economy, dan lainnyasebesar 6,8%. Permasalahan kebangsaan serta konstitusi hanya sebesar 0,4%. Fenomena tersebut menunjukan bahwa pemilu hanya dimaknai sebatas pencarian kekuasaan semata dan bukan menjawab permasalahan yang menghinggapi rakyat indonesia.

Masih di seputar isu yang dilekatkan dan juga dikomentari publik terhadap para calon presiden. Permasalahan Jakarta yang dihadapi Jokowi juga menjadi salah satu favorit isu untuk juga dilekatkan public  kepada para capres. Banyak capres yang, secara sengaja atau tidak sengaja,Riding the wave” isu-isu seputar Jokowi. Marzuki Ali tercatat paling banyak mengkritisi dan dikaitkan dengan Jokowi sebesar 46,90%. Sedangkan tokoh lainnya yang juga dikaitkan dan berbicara mengenai Jokowi adalah Anis Matta sebesar 19,53% dan Aburizal Bakrie 18,93%.

Celoteh di dunia maya tak bisa dilepaskan dari peranan buzzer. RIPRO menemukan beberapa akun dengan follower besar berperan sebagai buzzer untuk menggelontorkan isu-isu. Akun-akun populer seperti @trimacan2000, @fajroel, @AndhikaEka_P dan @iwanpiliang tercatat memiliki trend tinggi membicarakan beberapa tokoh. @triomacan2000 misalnya cukup gencar berbicara menyangkut Dahlan Iskan, Jokowi, dan Jusuf Kalla. Akun @fajroel muncul dalam proporsi cukup besar dalam pembicaraan menyangkut Marzuki Ali. @AndhikaEka_P dikaitkan dengan Dino Pati Djalal. Sedangkan @iwanpiliang banyak berbicara mengenai Jokowi. Selain itu, pembicaraan tokoh-tokoh presiden sangat didominasi oleh para pendukungnya seperti @mahfudMD_info untuk Mahfud MD, @Gerindra untuk Prabowo Subiyanto, @turuntangan dan @turuntanganTGRY untuk Anies Baswedan, @pengembaraanARB untuk Aburizal Bakrie, serta masih banyak beberapa akun lainnya.

Isu-isu yang muncul dalam percakapan twitter tidak dapat dinafikan juga disumbang secara signifikan oleh produksi dan kontribusi celoteh para buzzer. Celoteh para buzzer yangbiasanya one dimensional dan fokus untuk pemenangan kandidatnya semata juga merupakan faktor yang mendangkalkan diskursus publik mengenai pemilu.

 

 

berikut beberapa link berita terkait:

http://news.detik.com/read/2014/03/16/155553/2527216/10/banyak-akun-twitter-anonim-bermunculan-menjelang-pemilu-diduga-bayaran?9922032
http://news.detik.com/pemilu2014/read/2014/03/16/142935/2527160/1562/marzuki-alie-anis-matta-dan-ical-paling-rajin-serang-jokowi
http://news.metrotvnews.com/read/2014/03/16/219558/jadi-trendsetter-twit-jokowi-diikuti-ical-dan-marzuki-alie
http://news.detik.com/pemilu2014/read/2014/03/16/153110/2527203/1562/tak-hanya-di-survei-jokowi-juga-memimpin-di-twitter?9911012
http://news.detik.com/pemilu2014/read/2014/03/16/130345/2527105/1562/tren-kicauan-pemilu-2014-para-capres-belum-menjawab-masalah-bangsa?9922022
http://news.metrotvnews.com/read/2014/03/16/219600/pemilu-2014-hanya-sebagai-karnaval-demokrasi
http://m.rmol.co/news.php?id=147480
http://www.gresnews.com/berita/politik/151163-ini-dia-para-penyerang-jokowi/
http://harian-pelita.pelitaonline.com/cetak/2014/03/16/apakah-para-buzzer-telah-menipu-capres#.UyZ98IXInMB
http://harian-pelita.pelitaonline.com/cetak/2014/03/16/ripro-pemilu-cuma-karnaval-simbol-demokrasi#.UyZ984XInMB
http://analisadaily.com/news/read/banyak-akun-twitter-anonim-bermunculan-menjelang-pemilu-diduga-bayaran/14218/2014/03/16

 

Kapasitas Negara Rendah, Kikis Kredibilitas Rakyat

E-mail Cetak PDF

 

 

 

Jakarta (6/2/14) - Negara ikut andill memicu ketegangan yang terjadi di berbagai tempat di tanah air. Ini karena negara tidak sigap mengakomodasi kebebasan sipil (civil liberty) yang berkembang sejak era reformasi.


“Padahal yang dituntut rakyat, benar-benar hak yang sah (legitimate). Tapi negara tidak cekatan merespon tuntutan itu," kata Wakil Direktur Program Studi Ilmu Komunikasi Politik Pasca Sarjana Univ Paramadina Abdul Malik Gismar PhD, dalam diskusi Forum Membaca Indonesia dengan topik “10 Keresahan Publik terhadap  Negara di Tahun Politik”, di Universitas Paramadina, Jakarta, Kamis (6/2/2014).

Penggagas Forum Membaca Indonesia ini mengambil contoh, kasus penyegelan SDN yang terjadi di beberapa tempat.  Setelah ditelusuri, pangkal masalahnya karena proses pembebasan lahan untuk SDN itu, tidak memenuhi prosedur. Pemilik tanah merelakan tanahnya dibeli pemerintah, karena untuk tujuan yang baik: mendirikan sekolah.

Tapi begitu bangunan berdiri, ganti untung dari pemda tidak lekas cair karena kinerja birokrasinya lamban. Tuntutan pemilik tanah, sah. Tidak ada yang salah,” kata anggota Panel Ahli Indonesia Democracy Index, ini.

Kasus-kasus lain seperti konflik kasus Gereka Yasmin, kasus Syiah di Sampang, akar masalahnya karena negara lamban merespon tuntutan publik. Yang pada intinya, negara tergopoh-gopoh mengakomodasi kebebasan publik. "Ketika gap antara tuntutan publik dengan kemampuan negara merespon ini makin jauh, maka potensi ketegangan atau bahkan konflik akan makin besar," kata Malik.

Kegalauan semacam ini terbaca dari riset yang disusun tim peneliti Program Studi Ilmu Komunikasi Pasca Sarjana Universitas Paramadina bekerja sama dengan lembaga penyedia data Awesometrics.

Dari pemaparan hasil riset, tampak bahwa tata kelola menjadi persoalan mendasar bagi publik. Melalui tata kelola pemerintahan yang baik, demokrasi bisa mendapat tempat di hati masyarakat.

Beberapa pakar menyebut, demokrasi yang berkembang di Indonesia merupakan demokrasi simbolik, bukan demokrasi substansial. "ini tidak sehat, sebab pada akhirnya, rakyat akan mengukur, melihat, menagih, apakah janji-janji demokrasi itu bisa di penuhi," kata Malik. Janji-janji demokrasi itu adalah kebebasan, keadilan, keamanan, dan kesejahteraan.

"Kalau janji-janji ini tidak bisa dijawab, maka demokrasi akan di hujat. Lebih buruk lagi, demokrasi akan kehilangan kredibilitasnya. Masyarakat tidak percaya dengan demokrasi," katanya.

Kalau demokrasi tidak bisa memberi jalan ke pencapaian tujuan demokrasi di atas, publik akan mencari jalan sendiri. Dengan kata lian, demokrasi mengalami defisit. Yang terlihat sekarang adalah civil dicontent , yakni adanya ketidakpuasan terhadap pelayanan publik oleh negara.

"Ini tidak boleh dipandang enteng. Sebab, bila tidak sigap dijawab oleh negara, bisa bergeser menjadi political discontent," kata Malik. Political discontent merupakan bentuk ketidakpuasan di wilayah politik. Bentuknya bisa berupa ketidakpercyaan terhadap aparatus politik (parpol, lembaga-lembaga pemerintah, dll), apatisme politik, sampai keseluruhan tata kelola demokrasi itu sendiri.

"Dan sangat mungkin demokrasi ditinggalkan," katanya. Dalam kaitan ini, Malik menekankan pentingnya rekruitmen politik pada pemilu legislatif dan presiden 2014, yang dalam beberapa bulan lagi akan bergulir. Dengan rekruitmen yang baik, defisit demokrasi bisa diatasi, kepercayaan terhadap demokrasi juga bisa kembali.

Malik menekankan semua elemen bangsa untuk mulai meninggalkan demokrasi simbolik ke demokrasi substansial. "Tiga cabang kekuasaan ini harus meningkatka kapasitas" kata Malik.

 

 

 

Unduh Materi Power Point

 
JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL

Ruang Sevila Toledo

Ruang Kelas

Ruang Diskusi

Auditorium

library 3

library 2

library

JEvents Calendar

September 2017
S M T W T F S
27 28 29 30 31 1 2
3 4 5 6 7 8 9
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30

Permintaan Brosur

Permintaan Brosur S2

Nama Lengkap *
Email *
No. HP *
Alamat Rumah *




Cici              Lina
Join & Follow:



Indonesian (ID)